Archive for the pengetahuan Category

KONSEP RENCANA PENATAAN LANDSCAPE BERBASIS PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP MENUJU KOTA ACEH DAN NIAS YANG SEHAT DAN AMAN.

Posted in pengetahuan on September 24, 2009 by fantastic4crab

KONSEP RENCANA PENATAAN LANDSCAPE BERBASIS PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP MENUJU KOTA ACEH DAN NIAS YANG SEHAT DAN AMAN.

2007

Bencana alam tsunami di Aceh dan gempa bumi di Nias beberapa waktu lalu masih belum lekang dari ingatan. Dua bencana besar tersebut meluluhlantakkan Aceh dan Nias dalam sekejap. Bencana tersebut menyisakan kerugian jiwa, psikologi, hingga kerugian material.

s_30d39706

Gambar 1. Korban Bencana Gempa Bumi Nias di Tenda Bantuan

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/stokfoto/2005/03/28/stf,20050328-56,id.html

tsunami_aceh_bodies_cp_6906800

Gambar 2. Korban Jiwa Bencana Alam Tsunami di Aceh

Sumber: http://www.cbc.ca/gfx/photos/tsunami_aceh_bodies_cp_6906800.jpg

Kondisi pasca bencana ibarat kehidupan baru bagi para korban. Kampung halaman yang porak poranda dan sempat mati suri kini perlahan-lahan mulai didatangi oleh para korban. Menurut Siswanto (Rabu, 16 Februari 2005), mayoritas para korban ingin kembali ke kampung halamannya. Sebagian besar dari mereka tidak lagi takut atau trauma dengan bencana yang telah terjadi.

 Wilayah Aceh dan Nias pasca bencana sungguh memprihatinkan. Menurut Tim Inovasi (2006), dua pertiga dari total bangunan di Banda Aceh dan sebanyak 52,77 persen dari total luas ibu kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu hancur total akibat gempa dan tsunami. Sedangkan menurut http://e-aceh-nias.org/upload/RBRR-07032007085259 .pdf, bencana di Nias menyebabkan 70.000 rumah rusak dan 90% kehidupan penduduk utamanya pertanian dan perikanan telah hancur. Kerusakan yang sangat signifikan tersebut harus segera ditangani untuk membantu para korban yang sebagian besar harus dan ingin kembali ke kampung halamannya.

banda_aceh_sebelum_tsunami_ Gambar 3. (a) Kondisi Kota Banda Aceh Sebelum Tsunami

banda_aceh_sesudah_tsunami_

(b) Kondisi Kota Banda Aceh Setelah Tsunami

Sumber: http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.pirba.ristek.go.

id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

Kerusakan yang cukup parah di Aceh dan Nias mengharuskan pemerintah harus segera melakukan penataan dan pembangunan kota skala besar. Bahkan, menurut Tim Inovasi (2006), menata Kota Aceh ibarat menata kota baru dari nol. Namun, menata kembali kota yang telah hancur lebur tidaklah semudah membalik telapak tangan. Butuh pemikiran yang mendalam serta pertimbangan dan masukan dari berbagai pihak untuk melakukan perencanaan tata ruang kota. Ada banyak faktor kompleks yang mempengaruhi perencanaan tersebut. Misalnya saja menurut Siswanto (Rabu, 16 Februari 2005) terdapat beberapa dilema dalam rekonstruksi. Dilema yang pertama adalah perihal rencana untuk mengurangi kepadatan penduduk kota pantai. Fakta di lapangan menunjukkan, mayoritas dari warga di pesisir Banda Aceh telah dipanggil Tuhan. Dengan demikian, kita tidak perlu lagi terlalu mengkhawatirkan kawasan-kawasan eks tsunami tersebut akan segera menjadi padat dalam waktu dekat. Dilema yang kedua yaitu perihal relokasi penduduk ke kota baru. Mungkin perlu kita renungkan kembali bahwa relokasi permukiman bukanlah pekerjaan yang mudah karena sering kali relokasi justru memiskinkan penduduk yang dipindahkan; dan pembangunan kota baru pada kenyataannya sangat sulit menarik warga untuk tinggal di sana. Hal ini disebabkan kota akan tumbuh kalau kesempatan kerja tersedia, kemudian pekerjaan membuahkan penghasilan, dan penghasilan menciptakan akumulasi dan sirkulasi kapital-bukan sebaliknya kota baru dibangun, kemudian pekerjaan muncul dan akumulasi kapital terjadi. Bila ternyata relokasi dan pembangunan kota baru terpaksa harus dilakukan, maka sebaiknya harus diusahakan untuk merelokasi penduduk ke kawasan permukiman baru yang sedekat-dekatnya dengan tempat tinggal mereka semula.

Setelah kondisi pasca bencana, berbagai alternatif untuk tata ruang kota ditawarkan. Tata ruang kota ini umumnya mempunyai prinsip yang berdasar pada model pengaturan landscape tertentu. Salah satunya adalah perencanaan penataan landscape untuk wilayah perumahan yang dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5.

image007.jpgpenataan lanskap perumanahan padat

Gambar 4. Penataan Landscape Perumahan Padat

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

 image008.jpgpenataan perumahan padat

Gambar 5. Penataan Landscape Perumahan Padat

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

Lokasi wilayah Aceh dan Nias berdekatan, sehingga keduanya mempunyai potensi untuk saling mempengaruhi. Bukti dari hal ini adalah bencana alam besar yang terjadi secara beruntun di dua wilayah tersebut dalam waktu bersamaan beberapa waktu lalu. Sehingga prinsip dasar penataan ruang kedua wilayah tersebut tidaklah berbeda jauh. Perbedaan yang mungkin terjadi dalam perencanaan tata ruang masing-masing wilayah bisa diakibatkan karena penyesuaian dengan kondisi wilayah dan penduduk.

petaAceh

Gambar 6. Peta Aceh

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.dpr.go.id/acehnias/i/petaAceh.gif&imgrefurl=http://www.dpr.go.id/acehnias/ShowStatistic.aspx&h=451&w=376&sz=24&hl=id&start=2&um=1&tbnid=wRgmVTzITIhtM:&tbnh=127&tbnw=106&prev=/images%3Fq%3Dpeta%2Bnias%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN

NIAS

Gambar 7. Peta Nias

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.toba-dx-group.net/nias.gif&imgrefurl= http://www.toba-dxgroup.net/&h=289&w=376&sz=39&hl=id&start= 5&um=1&tbnid=VDcBVZlawu QN3M:&tbnh=94&tbnw=122&prev=/images%3Fq%3Dpeta%2Bnias%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN

Berpijak pada pernyataan-pernyaataan sebelumnya, maka tulisan ini menawarkan konsep penataan landscape kota yang sangat bermanfaat sebagai rujukan perencanaan tata ruang kota untuk Aceh dan Nias yang didasarkan pada tujuan untuk menciptakan sebuah kota yang sehat dan aman yang berbasis pada pelestarian lingkungan hidup. Pelestarian lingkungan hidup perlu dilakukan dimana setelah terjadinya bencana, kondisi lingkungan hidup di Aceh dan Nias sangat memprihatinkan. Padahal lingkungan hidup merupakan aspek yang sangat berperan besar dalam menyeimbangkan kehidupan kota dan mendukung berlangsungnya kehidupan. Lingkungan hidup yang meliputi komponen tanah, air dan udara harus dilestarikan demi memaksimalkan manfaatnya untuk manusia. Pada tulisan ini akan dijabarkan konsep rencana tata landscape kota dengan tetap memperhatikan lingkungan hidup.

Berpijak pada pernyataan Siswanto (Rabu, 16 Februari 2005) bahwa rekonstruksi tata landscape tidak harus sama sekali baru, maka konsep tata landscape yang ditawarkan di sini bisa berfungsi sebagai rujukan atau informasi mengenai kondisi tata ruang ideal menuju kota Aceh dan Nias yang sehat dan aman. Namun, tidak menutup kemungkinan diterapkannya konsep tata landscape kota ini untuk wilayah yang lain.

Pada konsep perencanaan tata ruang ini, dilakukan pembagian terlebih dahulu mengenai spesifikasi landscape yang mempunyai fungsi tertentu. Nantinya tiap jenis landscape ini akan ditata dengan tetap memperhatikan fungsi serta kelestarian lingkungan hidup. Pembagian wilayah berdasarkan fungsinya ini meliputi wilayah-wilayah yang mempunyai pengaruh penting dalam mendukung kehidupan perkotaan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:

  1. Wilayah pantai dan permukiman pantai
  2. Wilayah permukiman di tengah kota

Uraian mengenai konsep rencana penataan landscape pada masing-masing wilayah akan dijabarkan berikut ini:

  1. Wilayah Pantai dan Permukiman Pantai

Wilayah pantai merupakan wilayah yang paling disoroti utamanya di Aceh pada pasca bencana tsunami. Hal ini dikarenakan wilayah pantai merupakan wilayah pertama kali yang akan terhempas tsunami, sehingga perlu diterapkan suatu pertahanan untuk mengurangi atau bahkan mengambat laju tsunami. Pemberdayaan wilayah pantai melalui pendekatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk mengantisipasi bencana tsunami telah banyak dibahas. Penerapan RTH dalam antisipasi bencana tsunami dipandang sebagai salah satu alternatif paling efektif saat ini. Selain ekonomis, penerapan RTH ternyata memberikan banyak manfaat. Manfaat-manfaat tersebut misalnya manfaat proteksi, estetika, hingga kesehatan.

 Meskipun bencana alam di Nias beberapa waktu lalu bukan bencana tsunami, namun penerapan RTH di wilayah pantai masih tetap harus dilakukan. Hal ini karena wilayah Nias mempunyai persamaan dengan wilayah Aceh, yaitu daerah rawan tsunami. Gempa bumi seperti yang terjadi di Nias beberapa waktu lalu sebenarnya juga mempunyai resiko terjadinya tsunami. Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada daerah rawan tsunami yang dapat dilihat pada Gambar 8.

daerah_rwn_tsunami

Gambar 8. Daerah Rawan Tsunami

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

 Penerapan RTH pada wilayah pantai dilakukan dengan menanam tumbuhan yang berakar kuat dan cocok ditanam di daerah pantai, seperti tumbuhan bakau (mangrove).

HTN-BAKA

Gambar 9. Tumbuhan Bakau (Mangrove)

Sumber: http://www.lablink.or.id/Eko/Wetland/lhbs-mangrove.htm

Berkenaan dengan penerapan RTH dengan menggunakan tanaman bakau, maka perlu adanya penyediaan ruang (space) bagi RTH. Hal ini dimaksudkan supaya luas area hutan bakau yang cukup efektif mereduksi laju tsunami dapat diaplikasikan.

 Penanaman bakau dengan tujuan di bidang keamanan. Penanaman bakau untuk tujuan antisipasi bencana dititikberatkan pada garis pantai yang berwarna merah pada Gambar 8. Jika memungkinkan, harus dibuat suatu sabuk hijau bakau di sepanjang garis pantai merah tersebut sepanjang daerah Aceh dan juga pada sebagian besar garis pantai Nias, kecuali untuk daerah-daerah tertentu yang tidak memungkinkan untuk ditutup bakau pada garis pantainya. Namun, untuk daerah yang demikian, perlu adanya sabuk hijau, tapi terletak di antara pantai dan permukiman manusia. Yang pasti, antara permukiman manusia dengan laut diusahakan harus disekat dengan bakau atau tumbuhan lainnya. Penyediaan lahan basah juga di daerah sebelum pantai juga perlu dilibatkan. Hal ini dikarenakan, lahan basah berfungsi menampung runoff air hujan, sehingga material pencemar yang terbawa air hujan tidak langsung masuk ke laut tetapi diolah secara alami terlebih dahulu dalam lahan basah.

 Penanaman hutan bakau di wilayah pantai tidak hanya ditujukan untuk antisipasi tsunami dan mencegah abrasi, akan lebih disukai jika mempunyai peran ganda, yaitu sebagai penggerak roda ekonomi. Misalnya dengan menerapkan pohon bakau sebagai kawasan pariwisata. Menurut Kasim (23 Februari 2006) hutan bakau dapat berpotensi menjadi daerah eko-wisata yang mempunyai banyak nilai positif dan manfaatnya.

 Berikut ini akan ditampilkan beberapa manfaat apabila tersedia hutan bakau dan kerugian apabila tidak disediakan hutan bakau, yang dikutip dari Wetlands International (30 Juni 2001) sebagai berikut:

 Manfaatnya:

(1)   Pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai.

(2)   Menyediakan berbagai hasil kehutanan seperti kayu bakar, alkohol, gula, bahan penyamak kulit, bahan atap, bahan perahu, dan lain-lain.

(3)   Mempunyai potensi wisata.

(4)   Sebagai tempat hidup dan berkembang biak ikan, udang, burung, monyet, buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemik.

 Kerugian jika hutan bakau hilang:

(1)   Terjadi abrasi pantai

(2)   Mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan

(3)   Mengakibatkan banjir

(4)   Perikanan laut menurun

(5)   Sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang

 Penerapan RTH melalui penyediaan hutan bakau di Aceh dan Nias difokuskan untuk garis pantai bagian barat dari 2 wilayah ini. Penanaman hutan bakau ini memang tidak dilakukan dengan menutup sepenuhnya garis pantai bagian barat, namun dilakukan dengan menitikberatkan penanaman bakau yang cukup besar pada garis pantai bagian barat. Wilayah-wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam meliputi garis pantai di daerah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Simeulue. Sedangkan untuk Nias, perlu dilakukan penyediaan hutan bakau di sebagian besar garis pantainya.

 Daerah permukiman pantai perlu mendapat perhatian juga. Meskipun menurut Siswanto (Rabu, 16 Februari 2005) penduduk di kawasan pantai Aceh mayoritas telah meninggal, namun dalam perencanaan harus tetap dipertimbangkan demi perkembangan di masa depan. Selain itu, keadaan ekonomi di Aceh menjadi turun secara signifikan pasca bencana, sehingga kemungkinan besar penduduk akan beralih ke mata pencaharian yang mempunyai korelasi langsung dengan alam seperti petani dan nelayan. Sehingga, perencanaan permukiman untuk kawasan pantai menitikberatkan penyediaan permukiman untuk para nelayan. Keberadaan bangunan penyelamat dan jalur evakuasi harus tersedia untuk mengantsipasi kemungkinan buruk jika bencana terjadi. Tembok pelindung perlu juga dibangun untuk membentengi kawasan permukiman dari serangan tsunami. Selain itu perlu disediakan sarana sanitasi berupa penampungan limbah cair secara komunal. Misalnya dengan menyediakan tangki septik yang dilengkapi dengan sumur resapan, dengan syarat kedalaman air tanahnya cukup dalam. Selain itu ada pertimbangan bahwa jarak sumur resapan atau tangki septik minimal harus 10 m dari sumber air. Sehingga untuk penyediaan tangki septik dan sumur resapan bisa dilakukan secara komunal. Penyediaan RTH di sekitar sumur resapan atau tangki septik berguna juga untuk memperkecil resiko pencemaran air tanah, karena akar tumbuhan akan menarik zat-zat pencemar dalam sumur resapan atau tangki septik kepada akar utamanya untuk tanaman yang berakar panjang.

 Pada kawasan lain di dekat pantai,  namun cukup jauh dari permukiman penduduk termasuk permukiman nelayan memungkinkan untuk dibangun pabrik-pabrik atau area industri. Hal ini mirip dengan pembangunan di Kobe (Jepang) (Tim Inovasi, 2006). Hampir semua industri di sana berada di tepi laut yang jauh dari permukiman. Air limbah yang dihasilkan diolah dahulu sebelum dibuang ke laut. Sehingga pengadaan instalasi pengolahan air limbah harus direncanakan. Pengalihan daerah industri di daerah pantai dimaksudkan untuk mengurangi polusi udara di daerah perkotaan, karena gas-gas yang dihasilkan industri akan mengarah ke laut. Namun, bukan berarti gas-gas tersebut tidak melalui pengolahan, harus ada rencana pengolahan limbah udara. Kembali lagi, di antara pabrik dan laut harus disekat dengan hutan bakau atau RTH. Sehingga gas-gas yang dihasilkan akan melalui zona hijau sebelum ke laut. Sedangkan kawasan antara area industri dengan kawasan permukiman harus disediakan jalur hijau juga supaya gas-gas pencemar yang telah mengalami pengolahan akan melewati jalur hijau sebelum mencapai permukiman. Untuk mempermudah akses jalan distribusi dari pabrik dan kota harus dibuat akses jalan yang baik, hal ini penting juga untuk mendukung pengembangan industri.

Secara garis besar, perencanaan wilayah pantai yang ideal adalah sesuai dengan yang dijelaskan di atas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 10.

2. Wilayah Permukiman di Tengah Kota

Perencanaan landscape permukiman terutama untuk permukiman di tengah kota memerlukan perhatian khusus, terutama karena kebutuhan tempat tinggal pasca bencana saat ini sangat mendesak. Untuk tata landscape daerah ini perlu diperhatikan beberapa faktor yang merupakan gambaran ideal meliputi:

(1)   Ketersediaan RTH di perkotaan dengan tetap memperhatikan ketersediaan lahan yang sesuai dengan kebutuhan perumahan.

(2)   Penyediaan RTH di sepanjang jalur transportasi untuk mereduksi zat-zat pencemar yang dihasilkan alat-alat transportasi.

(3)   Penyediaan fasilitas sanitasi berupa penyediaan tangki septik komunal untuk perumahan padat jika tidak memungkinkan pengadaan jarak 10 m dari sumber air bersih/minum untuk tiap rumah, serta penyediaan sarana sanitasi berupa septic tank pribadi untuk tiap rumah jika memungkinkan diterapkan aturan jarak 10 m dari air bersih/minum untuk tiap rumah.

(4)   Penyediaan taman-taman kota di tengah dan di tepi kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota. Fungsi ini bisa dikembangkan sebagai daerah pariwisata di perkotaan.

(5)   Daerah bantaran sungai harus dikosongkan dari permukiman dan digantikan dengan penyediaan RTH. Pada titik-titik tertentu perlu disediakan instalasi pengoahan air minum terutama untuk daerah hulu untuk menjaga kualitas bahan baku air minum.

(6)   Daerah komersial seperti pasar harus tetap memperhatikan penyediaan RTH.

(7)   Penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di tepi kota. Hal ini bertujuan supaya tidak mengganggu pemandangan kota dan menjaga tingkat kesehatan masyarakat. Pemilihan lokasi TPA harus dipilih beradasarkan kemudahan akses jalan bagi kendaraan pengangkut sampah. Perlu adanya perencanaan TPA dengan sistem sanitary landfill, yang pada prinsipnya bertujuan untuk memperpanjang umur TPA. Pada daerah TPA perlu dipertimbangkan lapangan kerja melalui pembuatan kompos dari sampah organik untuk mengurangi jumlah timbulan sampah. Bisnis biogas sebagai energi alternatif dari sampah merupakan hal yang sangat menarik dipertimbangkan.

(8)   Daerah dataran tinggi memerlukan penyediaan RTH yang cukup besar untuk mencegah erosi, tanah longsor dan banjir.

(9)   Daerah-daerah di tepi kota terutama yang searah dengan pantai rawan tsunami perlu dibangun jalur hijau dengan vegetasi berkayu.

 Berdasarkan uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa tata landscape di atas merupakan tata landscape ideal bagi Aceh dan Nias yang diharapkan bisa menjadi acuan penataan kota Aceh dan Nias pasca bencana yang memerlukan perencanaan kota skala besar. Penataan landscape tersebut mengacu pada tujuan untuk membentuk kota yang sehat dan aman sebagai tujuan utama pembentukan suatu kota.

MG

Rencana Tata Ruang

 

 

Daftar Pustaka:

Anonim. Daerah Rawan Tsunami. Sumber:http://images.google.co.id/imgres? Imgurl =http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

 Anonim, http://www.cbc.ca/gfx/photos/tsunami_aceh_bodies_cp_6906800.jpg

 Anonim. Kondisi Banda Aceh Sebelum dan Sesudah Tsunami ,http://images.goog le.co.id/imgres? imgurl=http://www.pirba.ristek.go. id/isi/aceh/gambar/daerah _rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

Anonim. Penataan Landscape Perumahan. http://images.google.co.id/imgres? Imgurl =http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

Anonim. Peta Aceh. Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www. dpr.go.id/acehnias/i/petaAceh.gif&imgrefurl=http://www.dpr.go.id/acehnias/ShowStatistic.aspx&h=451&w=376&sz=24&hl=id&start=2&um=1&tbnid=wRgmVTzITIhtM:&tbnh=127&tbnw=106&prev=/images%3Fq%3Dpeta%2Bnias%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN

Anonim. Peta Nias. Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www. toba-dx-group.net/nias.gif&imgrefurl=http://www.tobadxgroup.net/&h=289& w=376&sz=39&hl=id&start=5&um=1&tbnid=VDcBVZlawuQN3M:&tbnh=94&tb nw=122&prev=/images%3Fq%3Dpeta%2Bnias%26svnum%3D10%26 um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN

Anonim. The Disaster In Nias, http://e-aceh-nias.org/upload/RBRR-07032007085259 .pdf.

Fikri, Ahmad, Rabu 13 April 2005. Gangguan Gunung Meletus Efek Gempa Nias. TempoInteraktif,Bandung,http://www.tempointeraktif.com/hg/stokfoto/2005/03/28/ stf, 20050328-56,id.html

 Kasim, ma’ruf, Rabu 23 Februari 2006. Kawasan Mangrove dan Kawasan eco-tourism. http://maruf.wordpress.com/tag/kawasan-mangrove-dan-konsep-ecot ourism/

Siswanto, Andy, Rabu 16 Februari 2005. Merekonstruksi Tata Ruang Aceh. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/16/opini/1562572.html

 Tim Inovasi, 2006. Menata Kembali Banda Aceh Pasca Tsunami. http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=193

 Wetlands Indonesia, 30 Juni 2001. Hutan Mangrove. http://www.lablink.or.id/Eko /Wetland/lhbs-mangrove.htm

PEMANFAATAN TANAMAN GAMAL (Gliricidia sepium) DAN MIMBA (Azadirachta indica) BERBASIS RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) SEBAGAI SOLUSI MASALAH SANITASI LINGKUNGAN DAN MANAJEMEN BENCANA

Posted in pengetahuan on September 24, 2009 by fantastic4crab

Oleh :

DINA TRISIANA ISKANDAR, MUHAMMAD ARIFUDIN, IKA YULIASTUTI 

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA

2006

  

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 Masalah sanitasi memicu berbagai dampak negatif terutama berkenaan dengan masalah kesehatan. Tingkat kesehatan masyarakat yang rendah memberikan efek berantai berupa penurunan tingkat ekonomi hingga penurunan jumlah dan potensi sumber daya manusia. Akumulasi pencemar yang terkumpul dalam lingkungan semakin meningkat dan ibaratnya seperti bom waktu yang semakin mengancam kelangsungan hidup manusia, sehingga perlu diadakan tindakan pemulihan. Berbagai solusi untuk memulihkan kualitas lingkungan telah banyak dibahas, di antaranya adalah menggunakan pendekatan yang memanfaatkan peran tumbuhan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai pemulih kualitas lingkungan merupakan solusi yang memberikan banyak keuntungan dan ekonomis. Hal ini menyebabkan pemanfaatan tumbuhan sebagai pemulih kualitas lingkungan semakin populer dan digemari.

 Tumbuhan memiliki kemampuan yang disebut phytopumping, yaitu kemampuan menyerap air melalui akar dan air yang diserap akan mengalami transpirasi melalui daun yang dibantu oleh sinar matahari. Kemampuan phytopumping yang dimiliki oleh tumbuhan dapat membantu perbaikan sanitasi (Mangkoedihardjo, 2007). Hal ini dikarenakan zat-zat pencemar yang terjangkau oleh akar dapat terserap oleh akar tumbuhan. Tumbuhan darat, terutama tumbuhan yang memiliki jangkauan akar yang panjang dan luas sangat efektif digunakan sebagai pereduksi zat pencemar. Zat pencemar tersebut bukan hanya zat pencemar yang masuk melalui akar, namun berlaku juga untuk zat pencemar yang ada di udara.

 Pemanfaatan tumbuhan sebagai penjaga kualitas lingkungan memunculkan konsep tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang saat ini sudah marak dilaksanakan di perkotaan sebagai solusi masalah lingkungan. Keberadaan RTH penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Kelestarian RTH suatu wilayah perkotaan harus disertai dengan ketersediaan dan seleksi dengan tanaman yang sesuai dengan arah dan rancangannya (Lab. Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap, 2005).

S eleksi tanaman sebagai pendukung konsep RTH harus dilakukan dengan banyak petimbangan. Seleksi jenis tanaman dilakukan berdasarkan keuntungan dan kerugian yang didapatkan jika tumbuhan digunakan untuk RTH.

 Gamal (Gliricidia sepium) dan Mimba (Azadirachta indica) merupakan jenis tanaman darat yang kuat, tahan hama, serta memberikan nilai ekonomis. Kedua jenis tumbuhan ini sangat cocok diterapkan untuk RTH. Gamal memiliki kemampuan sebagai penahan tanah dan mampu mereklamasi tanah, sedangkan mimba memiliki kemampuan untuk menahan angin (Agus, F dan Rahayu, S, 2004 dan Anonim, 2006). Kemampuan kedua jenis tumbuhan memungkinkan untuk mereduksi dampak kerusakan dan kerugian yang terjadi akibat bencana alam yang sering terjadi di Indonesia seperti tanah longsor, banjir, angin topan, bahkan tsunami. Pemanfaatan tanaman Gamal dan Mimba untuk penerapan RTH di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia merupakan solusi yang sangat menguntungkan dan menarik untuk dibahas.

 1.2  Perumusan Masalah

 Karya tulis ini akan membahas tentang penerapan RTH dengan memanfaatkan tanaman Gamal dan Mimba sebagai jenis tanaman yang memberikan banyak keuntungan. Beberapa pertanyaan yang melandasi pembahasan dalam karya tulis ini antara lain:

  1. Mengapa konsep RTH perlu diterapkan dalam menjaga sanitasi yang baik dan sebagai pelindung dari bencana alam?
  2. Dasar apakah yang menjadi pertimbangan pemilihan Gamal dan Mimba sebagai jenis tanaman yang sangat menguntungkan untuk diterapkan dalam RTH?
  3. Bagaimana mekanisme RTH dengan menggunakan Gamal dan Mimba untuk melindungi lingkungan dari bahan-bahan pencemar dan serangan bencana alam?
  4. Bagaimana penerapan RTH untuk mewujudkan perlindungan yang optimal dari bahan-bahan pencemar dan bencana alam?

 1.3  Tujuan Penulisan

 Tujuan dari penulisan karya tulis ini antara lain:

  1. Memberikan informasi mengenai dampak negatif yang akan terjadi akibat buruknya sanitasi jika tidak segera dilakukan tindakan pemulihan lingkungan.
  2. Memberikan informasi mengenai bencana yang sering melanda Indonesia serta kerugian yang ditimbulkan.
  3. Memberikan usulan mengenai solusi untuk mengatasi masalah sanitasi serta antisipasi kerusakan dan kerugian akibat bencana alam melalui pendekatan yang berbasis ekologi dan ramah lingkungan, berupa RTH yang dapat diterapkan.
  4. Memberikan informasi mengenai tanaman Gamal dan Mimba sebagai tanaman yang sangat baik digunakan untuk penerapan RTH di daerah tropis seperti Indonesia.

1.4  Manfaat Penulisan

 Manfaat yang dapat diambil dari karya tulis ini adalah:

  1. Solusi dalam karya tulis ini dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat serta perekonomian.
  2. Bahasan dalam karya tulis ini dapat memberikan informasi mengenai salah satu kekayaan alam Indonesia berupa tanaman Gamal dan Mimba yang mempunyai banyak manfaat dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan manusia, sehingga dapat mendorong publikasi kedua jenis tanaman yang sangat bermanfaat tersebut.
  3. Karya tulis ini dapat memberikan konsep mengenai gambaran pengaturan RTH yang berbasis reduksi bahan pencemar dan perlindungan dari bahaya bencana alam khususnya yang berhubungan dengan penggunaan tanaman Gamal dan Mimba.

 1.5  Ruang Lingkup Pembahasan

 Karya tulis ini akan membahas solusi permasalahan sanitasi dan kerusakan serta kerugian yang diakibatkan oleh bencana alam melalui konsep RTH dengan memanfaatkan tanaman Gamal dan Mimba. Tanaman Gamal dan Mimba dipilih untuk dimanfaatkan dalam RTH dengan tujuan menjaga kualitas sanitasi berdasarkan kualifikasi karakteristik yang dimiliki keduanya. Solusi yang dipaparkan dalam karya tulis ini mempunyai misi untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas kesehatan dan perekonomian masyarakat.

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

 

2.1      Masalah Sanitasi di Indonesia

2.1.1        Kondisi Sanitasi di Indonesia

 Sanitasi yang dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan sebagai usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan masyarakat (Antara News, 14 Desember 2006). Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air. Hampir tiap orang mengetahui masalah air, tapi tidak banyak yang mengetahui bahwa ada masalah sanitasi yang sama seriusnya dengan masalah air yang telah mendapat publikasi lebih baik. Semua penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang tidak benar. Memperbaiki kualitas air tanpa memperhatikan masalah sanitasi sangatlah tidak efektif (Middleton dalam Seri Makalah Hijau).

 Indonesia merupakan negara yang memiliki sistem sanitasi terburuk ketiga di Asia Tenggara setelah Laos dan Myanmar. Meski dampaknya sangat terasa, sampai sekarang buruknya sanitasi di negeri ini belum mendapat perhatian bersama. Bahkan, pemerintah pun belum memberikan perhatian sebagaimana mestinya (Antara News, 2006). Buruknya sanitasi bukan hanya terkait masalah kesehatan, tetapi juga citra sebuah kota, bahkan negeri. Selain dianggap sebagai negeri yang kotor, buruknya sanitasi juga menimbulkan kesan tidak memiliki hidup yang sehat. Artinya, masalah sanitasi tidak akan selesai bila tidak ada kemauan politik yang kuat untuk melaksanakan pembangunan yang prorakyat miskin, prokesehatan, dan prolingkungan (Rosita, 2007).

 Pelayanan sanitasi di Indonesia masih menunjukkan tingkat kesenjangan yang tinggi, hal ini dapat dilihat pada diagram Gambar 2.1. (diadaptasi dari The World Bank, 2006).

2

Gambar 2.1 Kesenjangan Pelayanan Sanitasi di Indonesia

Sumber: Analisa Data Sumber Demografi dan Kesehatan 2002/2003 dalam The World Bank, 2006

Cakupan layanan sanitasi di Indonesia merupakan yang terburuk di kawasan masyarakat miskin dengan kurang dari satu persen dari seluruh penduduk Indonesia yang mempunyai akses ke sistem pipa pembuangan kotoran. Data survei menunjukkan bahwa 80 persen dari masyarakat miskin pedesaan dan 59 persen dari masyarakat miskin perkotaan tidak mempunyai akses terhadap sanitasi yang memadai (The World Bank, 2006).

 Sekitar 65 persen rumah di perkotaan Indonesia memiliki septic tank. Hal ini menunjukkan bahwa septic tank masih jadi pilihan favorit untuk menangani masalah sanitasi rumah tangga di Indonesia. Ini bisa menjadi persoalan besar karena hingga saat ini hampir tidak ada ketentuan yang mengatur septic tank. Memang ada Standar Nasional Indonesia untuk konstruksi septic tank, tetapi aturan lainnya belum ada, termasuk soal batasan jumlah septic tank per satuan luas kawasan dan kewajiban bagi pemilik rumah untuk secara rutin melakukan penyedotan. Selain itu, tak ada pula pihak yang merasa berkepentingan memeriksa kondisi septic tank di wilayahnya. Padahal secara kolektif adanya septic tank akan mempengaruhi kualitas air tanah dan pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan jutaan orang (Rosita, 2007).

Masalah pencemaran udara juga termasuk dalam masalah sanitasi. Sebagian besar pencemaran udara terjadi di perkotaan. Menurut Arisandi dalam Terranet (24 Januari 2002), penyebab utama dari permasalahan pencemaran udara adalah produk buangan gas yang dihasilkan alat transportasi dan industri.

 2.1.2        Masalah Ekonomi yang Berhubungan Dengan Masalah Sanitasi

 Sanitasi yang buruk di negara Indonesia memberikan dampak kerugian ekonomi sedikitnya Rp.40 triliun, belum lagi dampak kesehatan di mana masyarakat miskin harus mengeluarkan sedikitnya 25 persen penghasilannya hanya untuk membayar dampak dari sanitasi yang buruk. Misalnya saja masyarakat harus membayar pengobatan akibat serangan berbagai penyakit akibat sanitasi buruk, membayar keperluan air bersih, membayar keperluan mandi cuci dan kakus (MCK) dan sebagainya (Tri Utomo dalam Antara News, 14 Desember 2006).

 Biaya pengumpulan, pengolahan dan pembuangan limbah meningkat dengan cepat begitu konsumsi meningkat. Merencanakan hanya satu sisi penyediaan air tanpa memperhitungkan biaya sanitasi akan menyebabkan kota berhadapan dengan masalah lingkungan dan biaya tinggi yang tak terantisipasi (Middleton dalam Seri Makalah Hijau).

 2.2      Masalah Bencana Alam

2.2.1        Bencana di Indonesia Serta Kerugian yang Ditimbulkan

 Dalam sebuah artikel WALHI (26 Juni 2007) yang ditulis oleh Halid Muhammad tertulis:

 Bencana adalah suatu situasi dimana cara masyararakat untuk hidup secara normal telah gagal sebagai akibat dari peristiwa kemalangan luarbiasa, baik karena peristiwa alam ataupun perbuatan manusia (Sphere Project, 2000).

 Bencana ekologis adalah akumulasi krisis ekologis yang disebabkan oleh ketidakadilan dan gagalnya sistem pengurusan alam yang telah mengakibatkan pranata kehidupan masyarakat menjadi colapse (WALHI, 2006).

 Indonesia adalah negeri yang rawan dan rentan terhadap bencana, baik yang berasal dari alam maupun yang terjadi akibat salah memperlakukan alam (perbuatan manusia). Dalam catatan akhir tahun WALHI 2006, dinyatakan bahwa 83% wilayah Indonesia masuk dalam kategori rawan bencana. Dalam kurun waktu lima tahun, 1998-2004 terjadi 1150 kali bencana, dengan korban jiwa 9900 orang serta kerugian sebesar Rp 5922 miliar. Tiga bencana utama adalah banjir (402 kali, korban 1144 jiwa, kerugian Rp. 647,04 miliar), kebakaran (193 kali, korban 44 jiwa, kerugian Rp. 137,25 miliar) dan tanah longsor (294 kali, korban 747 jiwa, kerugian Rp. 21,44 miliar).  Pada tahun 2006 WALHI mencatat telah terjadi lebih dari 135 kali bencana ekologis yang menyebabkan lebih dari 6000 orang meninggal dunia, lebih dari 25.000 keluarga kehilangan rumah, lebih dari 1 juta orang menjadi pengungsi, serta menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari Rp. 60 triliun (WALHI, 2007).

Rentetan bencana yang saat ini terjadi menunjukan bahwa bencana akibat kesalahan dalam memperlakukan alam terus mengalami peningkatan. Lima tahun terakhir (2001- 2006) telah terjadi peningkatan banjir, longsor, kebakaran hutan, gagal panen, gagal tanam dan kekeringan secara signifikan. Dampak dari bencana tersebut bukan hanya pada korban jiwa dan benda, namun berdampak pula pada produksi pertanian, tercemarnya sumber air serta masalah sosial yang lebih luas seperti pengungsi dan migrasi penduduk (WALHI, 2007).  

 Manajemen Bencana Sebagai Langkah Penanggulangan Dampak negatif Bencana

Masalah bencana berkaitan dengan isu yang luas, bukan saja masalah ekonomi, tetapi masalah sosial, ekologi, bahkan merambah ke wilayah politik. Ketidakmampuan menangani bencana bisa berakibat fatal terhadap kepercayaan masyarakat kepada penguasa (Djohanputro, 2006). Dampak negatif dari bencana begitu besar sehingga diperlukan adanya manajemen bencana untuk meminimalisasi atau bahkan menghindari kerugian dan penderitaan.                                                         

University of Wisconsin mendefinisikan manajemen bencana sebagai:

 the range of activities designed to maintain control over disaster and emergency situation and to provide a framework for helping at-risk persons to avoid or recover from the impact of disaster. Disaster management deals with situation that occurs prior to, during, and after the disaster. (serangkaian kegiatan yang didesain untuk mengendalikan situasi bencana dan darurat dan untuk mempersiapkan kerangka untuk membantu orang yang rentan-bencana untuk menghindari atau mengatasi dampak bencana tersebut. Manajemen bencana berkaitan dengan situasi yang terjadi sebelum, selama, dan setelah bencana) (Djohanputro, 2006).

Pada prinsipnya, manajemen bencana dilakukan sejak sebelum bencana terjadi, bukan pada saat dan setelah bencana terjadi. Tujuan manajemen bencana yang baik adalah:

  1. Menghindari kerugian pada individu, masyarakat, maupun negara melalui tindakan dini (sebelum bencana terjadi). Tindakan ini termasuk pencegahan. Tindakan ini efektif sebelum bencana itu terjadi. Tindakan penghindaran biasanya dikaitkan dengan beberapa upaya. Pertama, penghilangan kemungkinan sebab. Kalau bencana itu bisa disebabkan oleh kesalahan manusia, tindakan penghilangan sebab tentunya bisa dilakukan, tetapi hal ini akan sulit bila penyebabnya adalah alam yang memiliki energi di luar kemampuan manusia untuk melakukan. Oleh karena itu, tindakan penghindaran bencana alam lebih diarahkan pada menghilangkan, atau mengurangi kondisi, yang dapat mewujudkan bencana. Contoh “kondisi” yang dimaksud adalah struktur bangunan. Kondisi bangunan yang baik bisa meminimalisasi atau menghilangkan risiko bencana. Struktur bangunan yang sesuai untuk kondisi gempa menyebabkan bangunan tahan terhadap goncangan, sehingga kerugian manusia, fisik, ekonomi, dan lingkungan bisa dihindari.
  2. Meminimalisasi kerugian pada individu, masyarakat, maupun negara berupa kerugian yang berkaitan dengan orang, fisik, ekonomi, dan lingkungan bila bencana tersebut terjadi. Tindakan meminimalisasi kerugian akan efektif bila bencana itu telah terjadi. Tetapi perlu diingat, piranti tindakan meminimalisasi kerugian itu telah dilakukan jauh sebelum bencana itu sendiri terjadi. Contoh, bencana alam dengan cepat akan menimbulkan masalah pada kesehatan akibat luka parah, bahkan meninggal. Maka, tindakan minimalisasi yang harus dilakukan sejak dini adalah penyebaran pusat-pusat medis ke berbagai wilayah, paling tidak sampai ke tingkat kecamatanan.
  3. Meminimalisasi penderitaan yang ditanggung oleh individu dan masyarakat yang terkena bencana.
  4. Memperbaiki kondisi (terutama infrastruktur) sehingga individu dan masyarakat dapat mengatasi permasalahan akibat bencana.

2.3      Phytopumping Sebagai Kemampuan Tumbuhan Yang Memiliki Peran Dalam Reduksi Limbah Cair

 Di alam ini, semua zat atau bahan, akan mengalami proses daur ulang secara fisika, kimiawi, dan biologis. Satu atau beberapa tahap dari proses daur ulang berlangsung dalam air, karena air dapat melarutkan hampir semua jenis zat atau bahan (Khiatuddin, 2003).

 Air limbah yang mengandung berbagai senyawa kimia yang dibuang oleh manusia dan berbahaya bagi lingkungan akan terurai (membusuk) di dalam perairan untuk menjadi senyawa kimia yang lebih sederhana dan tidak berbahaya. Senyawa sederhana ini akan diserap kembali oleh tumbuhan untuk disintesis menjadi senyawa kimia yang kompleks dengan bantuan energi matahari (Khiatuddin, 2003). Kemampuan tumbuhan semacam ini oleh Mangkoedihardjo (2007) disebut phytopumping, yang dapat dinyatakan sebagai kemampuan tanaman menyerap air melalui akar dan air ditranspirasikan melalui daun dengan bantuan energi matahari. Phytopumping mampu mengalihkan limbah cair ke udara. Pelepasan limbah ke udara di sini dalam arti limbah cair yang diserap oleh tumbuhan telah diubah menjadi zat yang lebih sederhana dan tidak berbahaya.

 Berkenaan dengan kemampuan phytopumping tumbuhan, utamanya tumbuhan darat, maka tumbuhan dapat dilibatkan pengolahan limbah secara on-site system dalam lingkup konsep evapotranspiration bed (Mangkoedihardjo, 2007). Penerapan konsep evapotranspiration bed pada dasarnya merupakan pemanfaatan kemampuan phytopumping tumbuhan untuk menyerap bahan pencemar.

 2.4      Nilai Essensial Ruang Terbuka Hijau

 Ruang Terbuka Hijau (RTH) dikenal dengan istilah green space atau open space. Pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH) berdasarkan Perda No.7 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau, pasal 1 adalah ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan hijau pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau permakaman, kawasan hijau pertanian, kawasan hijau jalur hijau, dan kawasan hijau pekarangan.

RTH berfungsi sebagai filter udara dan daerah tangkapan air, dan mengurangi kadar zat pencemar udara serta menambah kenyamanan kota. Hasil penelitian Puslitbang Nasional, menunjukkan bahwa tanaman-tanaman yang terdapat di RTH dapat mereduksi polusi udara sekita 5 hingga 45%. RTH juga sangat efektif mengurangi efek-efek climatological health pada lokasi pemusatan bangunan tinggi yang berakibat pada timbulnya anomali-anomali pergerakan zat pencemar udara yang berdampak destruktif baik terhadap fisik bangunan maupun mahluk hidup (Arisandi, 2003).

 Penanaman tumbuhan atau vegetasi berkayu dapat memberikan manfaat lingkungan
sebesar-besarnya seperti manfaat proteksi, estetika, rekreasi, dan penghasil O2. Kegunaan khusus lainya adalah sebagai peningkat kualitas lingkungan kota dan secara mikro dapat menciptakan kondisi yang nyaman dan ketercapaian keseimbangan antara lingkungan alam dengan lingkungan binaan (Arisandi, 2003). 

RTH memiliki nilai penting bagi keseimbangan ekosistem dan harmonisasi hubungan antara manusia dan lingkungan diantaranya:

  1. Tumbuhan ini memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam berat Cu (Tembaga), Zn(Seng), Cd (Cadmium), Pb(Timbal/timah hitam), dan Mn (mangan). Karena secara fisiologis unsur-unsur tersebut digunakan hampir semua pohon sebagai katalisator reaksi metabolisme dan berperan pada pembentukan organ tumbuhan. Semakin banyak pohon yang di tanam
    di sepanjang jalan,maka akan membantu menurunkan emisi logam berat di udara.
  2. Keberadaan RTH dapat menciptakan iklim mikro yang dapat menunjang kehidupan makhluk hidup lainnya.
  3. Memberikan pengaruh positif pada kesehatan manusia, RTH juga melepaskan anion (ion negatif) lebih besar ketimbang kawasan tanpa pepohonan. Anion memberi pengaruh baik bagi kesehatan karena dapat membunuh dan menghentikan aktivitas bakteri; mengurangi penyakit pernapasan karena berfungsi mengaktifkan gerakan bulu getar hidung,
    melebarkan saluran napas, menjaga peredaran darah normal, dan mengurangi kecepatan pernapasan; menaikkan kemampuan menyerap dan memanfaatkan oksigen, mengaktifkan pembaharuan sel dan meningkatkan fungsi pertahanan tubuh; serta menghilangkan kelelahan.
  4. Pengelolaan RTH yang profesional dapat melahirkan suatu lokasi yang menyuguhkan unsur refreshing dan wisata bagi pengunjungnya, keberagaman pohon dan satwa yang ada juga memiliki unsur pendidikan lingkungan yang orisinil, sehingga tidak berlebihan bila hutan kota dapat dikemas menjadi sebuah tempat ekowisata (Objek wisata dengan mengenalkan unsur interaksi lingkungan).
  5. Pohon-pohon dalam lingkungan kehidupan perkotaan memberikan nuansa kelembutan. Perkembangan kota lazimnya diwarnai dengan aneka kekerasan, dalam arti kiasan kekerasan sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen air atau pepohonan (Arisandi, 2003).

2.5      Penataan Distribusi Tumbuhan Dalam Konsep Tata Ruang Terbuka Hijau Berbasis Topografi

Menurut Mangkoedihardjo (2007), luas area untuk RTH dalam suatu area dapat ditentukan berdasarkan jumlah penduduk. Jika ditilik bedasarkan variasi jumlah penduduk antar kota-kota, penentuan area untuk RTH tidak dapat disamaratakan. Jika luas RTH telah ditentukan, maka penentuan selanjutnya adalah bagaimana pendistribusian vegetasi sebagai elemen RTH dalam suatu kota. Distribusi tumbuhan sangat cocok diterapkan pada lahan basah (wetland), jalur garis sungai, dataran tinggi, dan peletakan vegetasi menurut arah utara-selatan, yang pada dasarnya mengikuti pedoman seperi intensitas matahari, pergerakan matahari, dan reaksi foosintesis.

 Pertumbuhan tanaman secara tidak langsung dipengaruhi oleh radiasi sinar matahari. Intensitas cahaya matahari merupakan panduan alami bagaimana vegetasi didistribusikan. Intensitas matahari lebih banyak pada dataran tinggi dari pada dataran rendah, sehingga distribusi area RTH pada dataran tinggi kota harus dijaga untuk menjamin tersedianya energi fotosintesis yang optimal bagi tumbuhan. Hal ini juga mendukung pemikiran tradisional dan penerapan konvensional bahwa penghijauan pada dataran tinggi dapat memaksimalkan ketersediaan air tanah dan meminimalisasi runoff permukaan yang pada akhirnya dapat mengurangi banjir pada dataran rendah (Mangkoedihardjo, 2007).

 Memaksimalkan luas RTH pada dataran tinggi dengan memperhatikan topografi kota merupakan hal yang menarik. Pertimbangan yang mengiringi konsep tersebut adalah berapa banyak area RTH yang harus didistribusikan pada lahan curam dan lahan landai. Hal ini mewakili tujuan utama dari konsep tersebut yaitu untuk mereduksi runoff. Pada akhirnya hasil berharga dari penerapan konsep ini adalah sebagai alat perencanaan ruang kota secara khusus, dan integrasi manajemen persediaan air secara umum (Mangkoedihardjo, 2007).

 Peran RTH dalam keseimbangan jatuhan air hujan sangat besar. Keseimbangan jumlah jatuhan air hujan dapat mengikuti persamaan (1):

Qp = Qi + Qr  ……………………(1)

Dimana:

Qp       = Jumlah jatuhan air hujan

Qi        = Jatuhan air hujan yang mengalami infiltrasi ke dalam tanah

Qr        = Jatuhan air hujan yang mengalami runoff.

Aliran infiltrasi (Qi) bergantung pada karakteristik profil tanah, sehingga Formula Darcy Weisbach dapat diterapkan sebagai berikut:

Qi = K x I x Av  ……………………(2)

Dimana K merupakan permeabilitas tanah sebagai nilai spesifik tempat, I dinyatakan sebagai headloss air yang melalui kedalaman tanah, Av adalah luasan resapan air secara vertikal.

 Sedangkan aliran runoff (Qr) tergantung pada karakteristik permukaan tanah, karena itu Formula Manning untuk hidrolika saluran dapat diaplikasikan sebagai berikut:

Qr = (1/n) x Ah x R2/3 x S1/2  ……………………(3)

Dimana, n merupakan nilai kekasaran konstan permukaan tanah. Ah adalah luas area runoff secara horizontal. R adalah radius hidraulik secara horizontal dari luas area permukaan runoff. S dinyatakan sebagai kemiringan tanah (topografi).

 Jika perasamaan (2) dan (3) dimasukkan dalam persamaan (1) akan didapatkan persamaan (4), sebagai berikut:

Qp = (K x I x Av) + ((1/n) x Ah x R2/3 x S1/2)  ……………………(4)

Persamaan (4) dapat diterapkan sebagai model distribusi RTH di perkotaan yang berbasis topografi (Mangkoedihardjo, 2007).

 2.5.1        Kebutuhan Luas Area RTH Berkenaan Dengan Kualitas Udara

Menurut Anonim (1999), pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan peradaban umat manusia yang diiringi dengan meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil telah memunculkan masalah krisis ekologi besar berupa pencemaran lingkungan skala dunia. Salah satu bahan pencemar yang berada dalam jumlah besar adalah karbon dioksida (CO2) yang menyebabkan berbagai permasalahan mulai dari masalah kesehatan hingga hujan asam. 

 Untungnya RTH mampu menyerap karbon dioksida, karena karbon dioksida dikonsumsi oleh tumbuhan sebagai zat-zat pembangun.  Menurut Samudro, G dan Mangkoedihardjo, S (2006), kemampuan RTH dalam menyerap karbon dioksida mempunyai korelasi dengan ketersediaan air dan intensitas cahaya matahari. Sehingga distribusi vegetasi sebagai pendukung RTH dapat diterapkan berdasarkan keberadaan dua unsur pokok tersebut.

 2.5.2        Pentingnya Peran RTH Sebagai Penyokong Daerah Pantai

 Daerah pantai sangat rawan mendapat serangan berbagai bencana. Salah satu yang sangat fenomenal adalah kasus bencana tsunami di Aceh. Menurut Mancamedia (2006) tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempa bumi yang terjadi di dasar laut. Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan kedalaman 7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi gelombangnya di tengah laut tidak lebih dari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanya tsunami. (Mancamedia, 2006).

 Tsunami terutama disebabkan oleh gempa bumi di dasar laut. Tsunami yang dipicu akibat tanah longsor di dasar laut, letusan gunung api dasar laut, atau akibat jatuhnya meteor jarang terjadi. Tidak semua gempa bumi mengakibatkan terbentuknya tsunami. Syarat terjadinya tsunami akibat gempa bumi adalah:

1. Pusat gempa terjadi didasar laut

2. Kedalaman pusat gempah kurang dari 60 km.

 1 copy

 Gambar 2.2 Mekanisme Terjadinya Tsunami

Sumber: Mancamedia, 2006

Berdasarkan mekanisme terjadinya tsunami, Mangkoedihardjo (2006, submitted), membuat suatu model hidraulik untuk memperkirakan kecepatan tsunami yang akan menghantam daratan, dengan menerapkan Formula Manning, dimana model pergerakan tsunami dianggap sebagai suatu saluran terbuka. Formula tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Vr = (1/n) x R2/3 x S1/2 ……………………(5)

Vr merupakan kecepatan runoff tsunami, sedangkan n merupakan nilai kekasaran permukaan daratan  yang tergantung pada karakteristik permukaan tanah, R merupakan radius hidraulik dari area muka runoff secara horizontal, sedangkan S merupakan slope hidraulik, yaitu selisih ketinggian ombak pada waktu terjadi tsunami di mana nilai slope hidraulik ini dapat dinyatakan juga sebagai headloss (hf) atau kehilangan akibat gesekan sepanjang penyebaran air tsunami.

 2.6 Gamal (Glicidia maculata) dan Mimba (Azadirachta indica) Sebagai Sumber Daya Alam Hayati yang Penuh Potensi

2.6.1    Karakteristik Gamal

 Gamal dalam taksonomi tumbuhan termasuk famili Fabaceae (Papilionoideae) yaitu salah satu jenis tanaman yang mudah ditanam dan tidak memerlukan sifat tanah khusus. (Manglayang Farm Online, 6 Maret 2006).

 Gamal adalah pribumi di kawasan Pantai Pasifik Amerika Tengah yang bermusim kering. Gamal diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar tahun 1900 untuk digunakan sebagai tanaman pelindung pada areal perkebunan di daerah Medan (Harian Umum Suara Karya, 19 Mei 1992 dalam Manglayang Farm Online, 6 Maret 2006). Ciri umum Gamal adalah daun menyirip, dengan bentuk daun oval runcing yang agak lebar, dan bunganya cukup indah berwarna ungu keputihan. Tanaman Gamal tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 0-1300 meter dari permukaan laut dan dapat tumbuh mencapai ketinggian 10 meter (Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) BIP Irian Jaya No. 110/92, 1992).

108156008_08d567f1bd_o Gambar 2.2 Tanaman Gamal (Glicidia maculata)

Sumber: Manglayang Farm Online, 2006

 2.6.2        Perkembangbiakan Gamal

 Perkembangbiakkan Gamal sangat mudah. Tanaman ini dapat diperbanyak melalui biji ataupun stek. Namun karena sukarnya mendapatkan biji Gamal sebaiknya ditanam dengan menggunakan stek batang, karena lebih mudah dan lebih cepat daripada melalui biji (Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) BIP Irian Jaya No. 110/92, 1992). Tanaman yang diperbanyak dengan stek sudah dapat dipanen perdana pada usia di bawah 1 tahun (biasanya 8-10 bulan). Sedangkan pada tanaman biji, hasil biomassa baru dapat diperoleh pada usia sekira 2 tahun (Manglayang Farm Online, 6 Maret 2006).

 2.6.3        Manfaat Gamal

 Gamal dapat dimanfaatkan antara lain sebagai pakan ternak yang banyak disukai oleh ternak ruminansia kecil seperti kambing dan domba (Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) BIP Irian Jaya No. 110/92, 1992). Gamal mempunyai nilai gizi yang tinggi, pencegah erosi, dan penyubur tanah. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar, arang atau sebagai bahan bangunan dan alat pertanian. Tanaman ini juga digunakan dalam berbagai sistem pertanaman, yaitu sebagai pohon pelindung dalam penanaman teh, cokelat, atau kopi. Selain itu juga berfungsi sebagai penyangga hidup untuk tanaman vanili, lada hitam, dan ubi jalar. Manfaat lain yang lebih umum yaitu digunakan sebagai pagar hidup, tanaman pupuk hijau pada pola tanam tumpang sari, sebagai penahan tanah pada pola tanam lorong dan terasering. Selain itu, tanaman ini juga ternyata dapat digunakan untuk mereklamasi tanah atau lahan yang gundul atau tanah yang rapat ditumbuhi oleh alang alang (Imperata cylindrica) (Manglayang Farm Online, 6 Maret 2006). Salah satu sebab mengapa Gamal cepat populer adalah resistensinya terhadap hama kutu loncat (Heteropsylla cubana) yang telah meluluhlantakan Lamtoro di berbagai belahan dunia tropis. (FAO, 1998).

 Manfaat lain dari Gamal yaitu biji, pepagan, daun, dan akarnya dapat digunakan sebagai rodentisida dan pestisida setelah terlebih dahulu dilakukan fermentasi. Bunganya digunakan oleh lebah sebagai sumber nutrisi dan zat gula dalam pembuatan madu lebah. Bahkan di beberapa daerah, Gamal ditanam sebagai tumbuhan eksotik dan penghias taman karena memiliki bunga berwarna lembayung yang indah (Manglayang Farm Online, 6 Maret 2006).

 2.6.4        Karakteristik Mimba

 Mimba dalam taksonomi tumbuhan termasuk famili Meliaceae (dalam Anonim, 2005), yaitu pohon yang banyak ditemukan di India maupun di tempat beriklim kering lainnya. Pohon ini tumbuh baik di propinsi NTB dan NTT (Agus, F dan Rahayu, S, 2004).

 Pohon mimba memiliki tinggi 8-15 m dan berbunga banci. Batangnya simpodial, serta kulit batangnya mengandung gum dan pahit. Daun menyirip, berjumlah gasal dan berpasangan, serta tepi daun bergerigi kasar.  Bunga memiliki susunan malai dan terletak di ketiak daun paling ujung. Tangkai bunga mempunyai panjang 1-2 mm dengan kelopak berwarna kekuningan. Mahkota bunga berwarna putih kekuningan. Buahnya bulat dan berwarna hijau kekuningan (Anonim, 2005).

 Asal usul tanaman Mimba tidak jelas. Waktu berbunga antara Maret – Desember. Tumbuh di dataran rendah pada daerah tropis. Tanaman ini tumbuh di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Madura pada ketinggian sampai dengan 300 m dari permukaan laut. Tumbuh di tempat kering berkala, sering ditemukan di tepi jalan atau di hutan terang (Anonim, 2005).

  MIMBA

Gambar 2.3 Tanaman Mimba (Azadirachta indica)

Sumber: Anonim, 2003

 

2.6.5        Manfaat Mimba

 Pohon ini mempunyai berbagai manfaat untuk pertanian dan kesehatan serta dapat diintegrasikan dalam sistem agroforestri. Pohon Mimba memberikan perlindungan bagi hewan, memproduksi bahan organik yang dapat digunakan sebagai pupuk organik, pestisida dan insektisida, makanan ternak, kayu bakar, dan cocok digunakan sebagai tanaman pagar serta penahan angin. Kayunya keras dan tahan terhadap rayap. Dalam sistem agroforestri pohon Mimba cocok ditanam di kebun campuran bersama pohon-pohon lain, tetapi karena pohonnya rindang, maka kurang cocok untuk ditanam bersamaan dengan tanaman pangan atau hortikultura semusim (Agus, F dan Rahayu, S, 2004).

 Pupuk organik dari pohon Mimba mengandung unsur hara yang penting untuk tanaman. Pestisida alami yang terbuat dari mimba merupakan alternatif pestisida kimia bagi petani. Biji dan daun pohon Mimba mempunyai rasa yang sangat pahit karena mengandung zat azadirachtin. Zat tersebut efektif sebagai pestisida dan insektisida. Serangga yang memakan daun yang telah disemprot insektisida mimba akan terpengaruh, namun serangga yang menyerbukkan bunga, yaitu yang menghisap nektar (cairan sari bunga), seperti lebah, tidak terpengaruh oleh azadirachtin.  Ekstrak daun mimba dapat berefek sebagai fungisida alami pada pengendalian penyakit antraknosa pada apel pasca panen, serta berefek insektisida terhadap larva Aedes aegypti (Agus, F dan Rahayu, S, 2004).

Bagi kesehatan masyarakat, daun mimba dapat dimanfaatkan sebagai penambah nafsu makan, menanggulangi disentri, borok, malaria, dan anti bakteri. Minyak Mimba dimanfaatkan untuk mengatasi eksim, kepala yang kotor, kudis, cacing, menghambat perkembangan, dan pertumbuhan kuman (Anonim, 2005). Kulit batang digunakan untuk mengatasi nyeri lambung, penguat, dan penurun demam. Buah dan getahnya dapat digunakan sebagai penguat. (dalam Agus, F dan Rahayu, S, 2004).

BAB III

METODE PENULISAN

3.1  Tahapan Penulisan

Penyusunan karya tulis ini memiliki tahapan – tahapan dalam proses penulisannya sebagai landasan untuk mengembangkan konsep dasar dalam perumusan permasalahan yang diangkat. Tahapan – tahapan tersebut akan dijelaskan dalam tiap sub bab berikut.

 3.1.1        Perumusan Tema dan Permasalahan

 Tahap ini merupakan dasar pijakan untuk kelanjutan proses penulisan, dimana pada tahap ini dirumuskan isi yang akan dibahas dalam karya tulis. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menjabarkan tema berdasarkan permasalahan yang diangkat.

 3.1.2        Pengumpulan Dasar Teori dan Data

 Tahap ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari tahap sebelumnya, dimana dasar teori dan data yang dikumpulkan merupakan landasan untuk memperkuat perwujudan tema yang dibahas.

 3.1.3        Analisa Masalah

 Tahap selanjutnya adalah analisa masalah dimana pada tahap ini dilakukan integrasi antara hasil analisa permasalahan dengan dasar teori yang sesuai, sehingga hasil akhirnya berupa solusi yang berlandaskan dasar yang sesuai.

 3.1.4        Kesimpulan

 Kesimpulan merupakan hasil penyatuan dan inti dari keseluruhan isi karya tulis yang berupa uraian singkat dan rekomendasi dari solusi yang dibahas dalam karya tulis ini.

 3.2  Pengumpulan data

 Data-data yang digunakan dalam karya tulis ini dikumpulkan melalui beberapa metode, antara lain:

  1. Tinjauan Pustaka

Data-data diperoleh melalui text book dan jurnal yang relevan.

  1. Tinjauan Media

Data-data yang diperoleh merupakan input dalam penyusunan karya tulis ini yang diperoleh dari internet, media cetak dan media elektronik informasi yang merupakan tambahan teori yang menajdi acuan.

 3.3  Metode Analisa

 Metode pendekatan pada proses analisa yang dilakukan dalam penulisan karya tulis ini adalah :

  1. Metode analisa deskriptif yaitu analisa untuk mengelola dan menafsirkan data yang diperoleh sehingga dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya pada obyek yang dikaji.
  2. Metode analisa komparatif untuk melihat perbandingan gagasan yang ditawarkan dengan beberapa teori yang relevan dengan gagasan.

3.4  Kerangka Berpikir

3 copy Gambar 3.1 Kerangka Penulisan Karya Ilmiah

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1  Pendistribusian RTH Berdasarkan Tata Ruang Kota

 Ruang Terbuka Hijau keberadaannya mutlak diperlukan di perkotaan, terutama untuk mengatasi masalah sanitasi lingkungan. Pada pembahasan ini, digunakan tumbuhan Gamal dan Mimba sebagai komponen pengisi RTH.

 Pendistribusian RTH dengan menggunakan tanaman Gamal dan Mimba mempunyai beberapa sasaran wilayah utama yang mempunyai korelasi dengan tujuan yang ingin dicapai sebelumnya, antara lain:

  1. Daerah bantaran sungai
  2. Daerah yang memiliki sanitasi on-site system, seperti septic tank dengan area lahan yang cukup memadai untuk ditumbuhkan vegetasi berpohon rindang.
  3. Daerah Perkebunan dan sawah dengan sistem terasiring
  4. Daerah dataran tinggi atau mempunyai topografi yang curam (rawan longsor)
  5. Taman kota
  6. Daerah yang berdekatan dengan laut
  7. Daerah beriklim kering dengan penduduk mayoritas bermata pencaharian sebagai peternak.

 4.2  Pendistribusian RTH Dengan Memanfaatkan Tanaman Gamal dan Mimba Pada Daerah Bantaran Sungai

 Pendistribusian tanaman Gamal dan Mimba di area bantaran sungai mempunyai tujuan antara lain:

  1. Mencegah banjir di area bantaran sungai, di mana di Indonesia daerah bantaran sungai telah banyak dijadikan area permukiman. Dengan adanya Gamal dan Mimba yang berstruktur kuat dapat menahan air permukaan.
  2. Menambah nilai estetika, di mana Gamal dan Mimba mempunyai bunga yang cukup indah serta area menjadi teduh.
  3. Menambah pasokan oksigen dan menyerap karbon dioksida di daerah sekitarnya. Di mana berdasarkan Samudro, G dan Mangkoedihardjo, S (2006), ketersediaan air sangat mempengaruhi penyerapan tumbuhan dalam menyerap karbon dioksida.
  4. Penanaman Gamal dan Mimba yang didistribusikan di sekitar on-site system pengolahan limbah domestik penduduk seperti septic tank dapat membantu penyerapan zat pencemar organik di dalam septic tank. Misalnya Gamal dan Mimba di tanam di dekat sumur resapan dari septic tank atau di antara sumur resapan dengan sumber air seperti sumur. Hal ini akan membantu konsentrasi pengalihan zat pencemar dari dalam sumur resapan ke tanaman. Jadi zat pencemar yang seharusnya meresap ke dalam tanah dan kemungkinan dapat menjangkau air tanah atau sumber air, akan terserap ke tumbuhan. Namun untuk lahan yang kurang begitu luas, disarankan memakai tumbuhan Gamal karena ukuran pohonnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan mimba.
  5. Penanaman tanaman Gamal dan Mimba yang ditanam di daerah bantaran sungai juga dapat membantu penyerapan zat pencemar, karena adanya kemampuan phytopumping dari tumbuhan yang menarik zat pencemar melalui akar.
  6. Dapat mereduksi runoff sehingga infiltrasi air hujan dapat maksimal.

 4.3  Pendistribusian RTH Dengan Memanfaatkan Tanaman Gamal dan Mimba Pada Daerah yang Memiliki Sanitasi On-Site System

 Pendistribusian dapat dilakukan, misalnya dengan menanam tanaman Gamal dan Mimba di sekitar sumur resapan, tangki penampung limbah domestik, maupun septic tank. Penanaman di tepi lahan basah buatan dengan tujuan pengolaahan limbah domestik akan sangat baik sekali diterapkan. Sebab tumbuhan akan membantu sistem pengolahan limbah secara alami.

 4.4  Pendistribusian RTH Dengan Memanfaatkan Tanaman Gamal dan Mimba Pada Daerah Perkebunan dan Sawah Dengan Sistem Terasiring

 Pendistribusian tanaman Gamal dan Mimba pada daerah ini tergantung dari jenis tanaman dalam perkebunan. Tidak disarankan ditanam di dekat tanaman tanaman holtikultura atau semusim, sebab sifat rindang yang dimiliki dapat mengurangi intensitas cahaya matahari pada tanaman perkebuann tersebut. Jika jenis tanaman perkebuanan adalah tanaman rambat, Gamal dan Mimba dapat digunakan sebagai inang dan penghambat pertumbuhan alang-alang. Sedangkan fungsi yang umum dari kedua tanaman ini adalah untuk melindungi perkebunan, misalnya sebagai pagar hidup. Penanaman tanaman Gamal dan Mimba di area perkebunan dapat berfusngsi sebagai penahan laju angin topan, sehingga kerusakan tanaman dapat direduksi. Fungsi lain adalah sebagai pasokan bahan pestisida biologis bagi tanaman perkebunan.

 Pendistribusian tanaman Gamal dan Mimba pada areal persawahan dengan metode terasiring membantu dalam menahan kekuatan struktur tanah dan menahan air.

 4.5  Pendistribusian RTH Dengan Memanfaatkan Tanaman Gamal dan Mimba Pada Daerah Dataran Tinggi atau betopografi curam

 Pendistribusian tanaman Gamal dan Mimba Pada dataran tinggi sangat baik dilakukan terutama dengan tujuan menambah ruang hijau. Berdasarkan Mangkoedihardjo (2007), pendistribusian tumbuhan di dataran tinggi dapat memberikan intensitas cahaya matahari yang optimal bagi tumbuhan sehingga menunjang pertumbuhannya. Selain itu dapat juga menambah nilai estetika dan memperkuat struktur tanah sehingga mengurangi potensi terjadi tanah longsor.

 Penataan distribusi tumbuhan gamal dan Mimba ini tetap berbasis pada sifat topografi daratan untuk mengoptimalkan intensitas cahaya matahari pada tumbuhan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti arah utara-selatan, sehingga intensitas cahaya dapat terdistribusi meata.

 4.6  Pendistribusian RTH Dengan Memanfaatkan Tanaman Gamal dan Mimba Pada Taman

 Pendistribusian Gamal dan Mimba pada taman mempunyai tujuan utama, sebagai penyedia oksigen dan penyerap karbon dioksida, sebagai penambah keteduhan taman, serta pelindung taman dari angin kencang di samping memiliki fungsi menambah nilai estétika taman.

 4.7  Pendistribusian RTH Dengan Memanfaatkan Tanaman Gamal dan Mimba Pada Daerah yang bedekatan dengan laut

 Pendistribusian Gamal dan Mimba pada daerah yang dekat dengan laut, dapat berfungsi untuk mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh bencana tsunami yang bisa datang sewaktu-waktu. Berdasarkan Mangkoedihardjo (2006, submitted), keberadaan tanaman yang kuat dapat menjadi peredam kekuatan tsunami mengikuti Formula Manning, dimana dengan menggunakan perhitungan Formula Manning akan dapat diketahui luas area penanaman vegetasi yang dibutuhkan untuk mmeredam tsunami. Selain itu Gamal dan Mimba juga sangat cocok tumbuh di dataran rendah

 4.8  Pendistribusian RTH Dengan Memanfaatkan Tanaman Gamal dan Mimba Pada Daerah Beriklim Kering Dengan Mayoritas Penduduk Bermatapencaharian Sebagai Peternak

Tanaman Gamal dan Mimba sangat cocok tumbuh dii daerah kering. Keduanya juga dapat digunakan sebagai pakan ternak yang mempunyai nilai protein tinggi. Ternak yang dimaksud adalah ternak ruminansia seperti sapi dan domba. Selain itu keberadaan Gamal dan Mimba di daerah kering dapat digunakan untuk mencegah erosi.

BAB V

KESIMPULAN

Penggunaan tanaman Gamal dan Mimba dalam Penerapan RTH merupakan solusi efektif dalam menangani permasalahan sanitasi lingkungan dan manajemen bencana alam. RTH merupakan alternatif pemecahan masalah sanitasi lingkungan yang ramah lingkungan dan memberikan banyak keuntungan. Keuntungan tersebut menjadi lebih besar dengan pemanfaatan tanaman Gamal dan Mimba yang memiliki banyak manfaat. Sebagai salah satu sumber daya alam hayati, tanaman gamal dan mimba sangat cocok diterapkan hampir di semua wilayah di Indonesia, karena mempunyai daya adaptasi ayng baik. Sehingga penerapan RTH dengan memanfaatkan tanaman Gamal dan Mimba merupakan solusi efektif yang bkan saja dapat mengatasi masalah sanitasi lingkunagn tetapi juga dapat berpartisipasi dalam manajemen bencana yang sering terjadi di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

 Anonim. 14 Desember 2006. Indonesia Miliki Sanitasi Terburuk Ketiga di Asia Tenggara. Jakarta Pusat: Antara News.

Middleton, Richard. Seri makalah hijau: Pengumpulan sanitasi. IKIP Malang.

Rosita, Elly. 16 Maret 2007. Rekor “Septic Tank” untuk Indonesia. Jakarta Pusat: Kompas.

The World Bank. 2006. Era Baru Dalam Pengentasan Kemiskinan Indonesia. Jakarta:http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/280016-1152870963030/2753486-1165385030085/Ikhtisar.pdf

Arisandi, Prigi. 08 Desember 2003. Merindukan Hutan Kota di tengah Panasnya Surabaya. Gresik: Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton).

WALHI. 26 Juni 2007. Bencana Ekologis dan Keberlanjutan Indonesia. Jakarta. info@walhi.or.id

Djohanputro, Bramantyo, Ph.D, MBA, IBF. 01 September 2006. Manajemen Bencana (Disaster Management). Sekolah Tinggi Manajemen PPM.

Khiatuddin, Maulida. 2003. Melestarikan Sumber Daya Air Dengan Teknologi Rawa Buatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mangkoedihardjo, Sarwoko. 2007. Phytopumping Indices For Evapotranspiration Bed. Surabaya, Indonesia: Sepuluh Nopember Institute Of  Technology.

Samudro, G and Mangkoedihardjo, S. 2006. Water Equivalent Method For City Phytostructure Of Indonesia. Surabaya, Indonesia: Department of Environmental Engineering, Sepuluh Nopember Institute of Technology

 Mangkoedihardjo, S. 2007 Perencanaan Tata Ruang Fitostruktur Wilayah Pesisir Sebagai Penyangga Perencanaan Tata Ruang Wilayah Daratan: Sebuah Kajian Dengan Pendekatan Energi, Ekosistem, dan Ekologi. Surabaya, Indonesia: Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. (Submitted)

 Mangkoedihardjo. S. 2006. The significance of greenspace in coastal area of Indonesia. Surabaya, Indonesia: Laboratory of Environmental Technology, Department of Environmental Engineering, Sepuluh Nopember Institute of Technology. (Submitted)

Job Safety Observation

Posted in pengetahuan on September 11, 2009 by fantastic4crab

Job Safety Observation (JSO) merupakan suatu metode atau alat untuk mempelajari lebih mendalam sikap kebiasaan dan tata cara bekerja dari tiap-tiap anak buah anda.

jso4

 

 

 

 

 

 

 

 

Prosedur JSO dapat digunakan untuk:

1. Bahan perbaikan atau koreksi yang harus segera dilakukan

2. Menyempurnakan pelaksanaan pekerjaan

3. Usaha meningkatkan tingkah laku dan kebiasaan bekerja yang aman

Melalui pendapat atas hasil JSO, maka dapat diberikan dorongan ke arah sikap / perangai yang selalu peduli terhadap keselamatan kerja.

Manfaat JSO:

  1. JSO dapat digunakan sebagai feed back
  2. Merupakan informasi yang jitu untuk mencapai efektivitas dalam peranan melatih anak buah anda
  3. Berbagai substandard kerja praktis yang ada dapat diidentifikasikan secara dini, sehingga kecelakaan yang tidak perlu dapat dicegah
  4. Memberi kesempatan pada anda untuk dapat berbincang-bincang secara informil untuk membicarakan sikap yang kurang tepat dari anak buah anda dalam bekerja
  5. Berkesempatan mengoreksi kerja anak buah anda yang kurang baik
  6. Anda bisa menjadi lebih dekat dengan anak buah anda, sehingga bisa mengetahui lebih dalam dan lebih baik setiap anak buah anda.
  7. Anda akan lebih mudah dan cepat menangkap problema fisik dan psikis dari anak buah anda

untitled

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah-Langkah Pelaksanaan JSO:

  1. Memilih pekerjaan
  2. Melaksanakan
  3. Mencatat hasil-hasil pengamatan
  4. Membahas hasil-hasil pengamatan bersama pekerja yang diamati
  5. Memberikan tindak lanjut bagi sikap bekerja yang aman

Pemilihan Pekerjaan yang Diamati

Untuk menentukan pekerjaan mana yang harus diprioritaskan, maka perlu dipertimbangkan hal-hal berikut ini:

  1. Adanya karyawan baru ataupun pekerjaan yang baru
  2. Karyawan yang lulus ataupun yang selesai mengikuti kegiatan pelatihan
  3. Karyawan yang bekerja di bawah rata-rata
  4. Karyawan yang sering mendapat kecelakaan
  5. Karyawan yang bekerja berhadapan dengan resiko
  6. Karyawan yang mempunyai persoalan-persoalan khusus

Melakukan Pengamatan

  1. Katakan kepada karyawan yang bersangkutan bahwa kegiatan pengamatan anda kepadanya adalah dalam rangka JSO dan perlu dikatakan juga bahwa karyawan yang bersangkutan supaya melakukan pekerjaan seperti biasa.
  2. Amatilah karyawan tersebut secara diam-diam dan sederhana ketika sedang bekerja
  3. Buatlah catatan pada work sheet mengenai pelaksanaan kerja praktis dan prosedur-prosedur kerja normal bagi karyawan tersebut.
  4. Hati-hatilah melakukan pengamatan jangan sampai mengganggu apa yang dilakukannya.
  5. Isilah JSO sheet sesudah anda melakukan review dengan karyawan tersebut. Simpanlah sebagai arsip sehingga dapat dipergunakan sewaktu-waktu.

Pembahasan

  1. Setelah anda selesai melakukan JSO, duduklah bersama karyawan tersebut dan terangkanlah kepadanya kesimpulan dari hasil JSO.
  2. Tunjukkanlah penghargaan anda kepadanya dan nyatakanlah bahwa anda menginginkan kerja sama.
  3. Katakanlah terus terang tentang sikap bawahan anda dan cara melaksanakan pekerjaannya selama ini, jangan sampai menggurui, namun pancinglah dia dalam dialog santai yang dapat membawa ke arah kerja yang selamat.
  4. Setelah mengetahui hasil JSO, mungkin karyawan ybs akan menjadi cemas dan takut, oleh karena itu penting menjaga suasana pembicaraan tetap terkontrol, informal, dan bersahabat.
  5. Jangan sampai pembicaraan menjadi komunikasi satu arah
  6. Doronglah dan semangatilah bawahan anda agar mau berbicara dan memberikan pandangannya sehingga suatu cara kerja yang selamat terbuka baginya serta mau melaksanakannya.
  7. Hal ini dapat dicapai apabila karyawan tersebut mengerti hambatan-hambatan, tindakan dan kebiasaannya dalam bekerja yang bisa mendatangkan celaka.

Tindak Lanjut

Tindak lanjut JSO disesuaikan dengan keperluan pekerjaan, yang pada umumnya tergantung dari pekerjaan dan manusia itu sendiri.

Tindak lanjut JSO sangat bermanfaat ketika baru saja ada penggantian dan pengubahan pekerjaan.

Tips Melaksanakan JSO

  1. Catat aktivitas di tempat kerja yang menurut anda perlu diobservasi.
  2. Buatlah daftar JSO dari aktivitas yang telah anda catat.
  3. Lakukan tiap observasi sebagai salah satu kerja yang tidak dipaksakan kepada anak buah anda di tempat kerja anda.
  4. Untuk menyempurnakan tiap-tiap JSO bahaslah selalu dengan karyawan yang diobservasi.
  5. Berikanlah karyawan tersebut satu lembar yang telah diisi lengkap dan sudah dibahas bersamanya.
  6. Simpanlah beberapa lembar di arsip anda untuk tujuan latihan selanjutnya.

jso 3

 

 

Contoh form JSO:

jso form

Efek Herbisida Roundup Terhadap Pertumbuhan Ilalang

Posted in pengetahuan on September 11, 2009 by fantastic4crab

Herbisida roundup merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan tanaman seperti ilalang. Pertumbuhan ilalang yang cepat seringkali tidak menguntungkan pada area dan kondisi tertentu. Roundup dipandang sebagai salah satu solusi praktis yang bisa diterapkan dalam ukuran tertentu dan kondisi yang tertentu pula. Namun, efek roundup pada struktur beton dan beberapa material lainnya masih perlu dipertanyakan. Selain itu resistansi tumbuhan yang diberi roundup juga masih perlu diselidiki lebih jauh.

240px-Impera_cylind_071122-1347_stgd

Meskipun masih banyak hal-hal yang perlu dikaji lebih jauh lagi mengenai roundup, namun efek roundup pada pertumbuhan rumput, dalam hal ini ilalang, perlu diteliti utamanya sebagai solusi praktis penghambat pertumbuhan ilalang. Percobaan kali ini menunjukkan hasil pengamatan terhadap efek roundup pada pertumbuhan ilalang dalam jangka pendek. Tujuan utama dari percobaan ini adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas dari roundup terhadap pertumbuhan ilalang yang diperlakukan secara berbeda.

 

Pada percobaan kali ini, dibutuhkan cairan kimia roundup yang telah diencerkan dengan perbandingan roundup : air = 1 : 20. Objek percobaan merupakan vegetasi ilalang sebanyak 4 kelompok. Masing-masing kelompok berada dalam area pengamatan sebesar 1,5 m x 2,5 m. Pemberian roundup dilakukan pada hari pertama saja pada 2 area percobaan. Masing-masing area diperlakukan secara berbeda sebagai berikut:

Area I : Dipotong (dirintis) pendek hingga akar tanpa diberi  roundup.

Area II: Dipotong (dirintis) pendek hingga akar dengan diberi roundup.

Area III: Dipotong rapi setinggi +/- 3 cm tanpa diberi roundup.

Area IV: Ilalang tidak dipotong dan langsung diberi roundup.

Masing-masing area ditempatkan pada kondisi alam terbuka dengan kondisi cuaca mayoritas cerah dengan sedikit hujan. Kondisi tanah subur dengan pH netral. Durasi pengamatan pada percobaan ini adalah 15 hari.  Parameter yang diamati adalah ketinggian ilalang setiap hari yang diukur pada titik-titik sampel pada tiap area. Titik sampel merupakan titik pengukuran pada tiap area. Masing-masing area dipasang 3 titik sampel agar hasil pengukuran lebih representatif. Selain ketinggian, parameter lain yang diamati adalah grade perubahan warna pada rumput untuk mengetahui kesuburan ilalang.

Selama 15 hari pengamatan dan pengukuran, hasil percobaan adalahs ebagai berikut:

Area I : Ilalang dipotong (dirintis) pendek hingga ke akar dan tidak diberi roundup

tb2 copy ok

 

 

2 copy

 

 

 

 

 

 

Area II : Ilalang dipotong (dirintis) pendek hingga ke akar dan diberi roundup

3 copy

4 copy

 

 

 

 

 

 

 Area III : Ilalang dipotong rapi (+/- 3 cm) dan tidak diberi roundup

5 copy

  

6 copy

 

 

 

 

 

 

Area IV : Ilalang tidak dipotong  dan langsung diberi roundup

7 copy

  

8 copy

 

 

 

 

 

 

 

Pada area 4, terdapat pertumbuhan ilalang baru yang dapat dilihat pada titik 4 dan titik 5. Namun pertumbuhan ilalang baru tersebut tidak mengalami penambahan ketinggian mulai hari ke 14 dan secara visual mengalami penurunan kesuburan yang dapat dilihat dari perubahan grade warna menuju cokelat.

 

Penambahan ketinggian rata-rata seluruh area dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut:

9 copy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sedangkan tinggi maksimum dan tinggi rata-rata ilalang di tiap area adalah sebagai berikut:

10 copy

Berdasarkan hasil pengukuran, pengamatan dan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa:

  1. Ilalang di AREA 1 (dengan perlakuan potong pendek tanpa roundup) dan AREA 2 (dengan perlakuan potong pendek dengan roundup) mengalami pertumbuhan yang tidak jauh berbeda, dengan ketinggian rata-rata  di AREA 1 = 6,05 cm dan ketinggian rata-rata di AREA 2 = 6,49 cm.
  2. Pertumbuhan ilalang di AREA 3 (potong rapi (+/- 3 cm) tanpa roundup) cukup konstan dan pesat di mana tinggi rata-rata ilalang = 9,38 cm.
  3. Ketinggian rata-rata ilalang di AREA 4 (tanpa potong dengan roundup) tidak mengalami peningkatan dengan penurunan kesuburan menginjak hari ke 5. Hal ini ditandai dengan tidak adanya penambahan ketinggian pada ilalang dan kondisi fisik ilalang menjadi coklat dan mengering.
  4. Pemberian roundup untuk menghambat pertumbuhan rumput dan ilalang paling efektif dilakukan tanpa melakukan pangkas pada ilalang sebelumnya.

Solidifikasi spent catalyst DHC-8 untuk membuat batako

Posted in pengetahuan on August 31, 2009 by fantastic4crab

Pendahuluan

DHC-8 Unicracking Catalyst merupakan katalis yang dimanfaatkan dalam proses pengolahan minyak mentah (crude oil) di Hydrocracking Complex Unit. DHC-8 Unicracking Catalyst akan melalui serangkaian proses pengolahan yang membuat katalis tersebut tercemar oleh beberapa pengotor yang terdapat dalam proses yang dilaluinya. Pengotor-pengotor dalam katalis tersebut di antaranya bersifat berbahaya apabila terlepas ke lingkungan.

Pada suatu periode tertentu, DHC-8 Unicracking Catalyst harus diaktivasi supaya bisa dipergunakan kembali dalam proses. Namun, pada suatu ketika, katalis tersebut tidak dapat diaktivasi lagi yang menandakan bahwa katalis tidak dapat dipergunakan lagi. Katalis yang tidak bisa dipergunakan lagi disebut spent catalyst. Spent catalyst DHC-8 dikategorikan sebagai Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sesuai dengan lampiran 1 Kode Limbah D221 dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999. Spent catalyst yang digolongkan sebagai limbah B3 ini tidak bisa langsung dibuang ke lingkungan, karena itu butuh metode pengelolaan yang tepat dan aman bagi lingkungan.

Penghasil spent catalyst DHC-8 yang tergolong limbah B3 mempunyai kewajiban untuk mengelola limbah tersebut. Hal ini telah diatur dalam PP Nomor 18 Tahun 1999 pasal 3 yang berbunyi:

“Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menghasilkan limbah B3 dilarang membuang limbah B3 yang dihasilkannya itu secara langsung ke dalam media lingkungan hidup, tanpa pengolahan terlebih dahulu.”

            Salah satu cara yang aman dan ekonomis adalah dengan menstabilkan spent catalyst melalui solidifikasi. Cara ini selain merupakan cara yang mudah dan mempunyai nilai ekonomis, juga dapat memberikan manfaat lanjut dari produk solidifikasi yang dihasilkan. Pada prinsipnya, spent catalyst akan dipadatkan dengan campuran semen dan pasir menjadi batako sehingga spent catalyst tersebut akan terikat dan tidak terlepas ke dalam lingkungan. Hasil dari solidifikasi ini dapat dimanfaatkan terutama untuk keperluan sipil.

 

Identifikasi Permasalahan

Awalnya spent catalyst DHC-8 berasal dari catalyst Unicracking DHC-8 dengan komposisi bahan penyusunnya adalah aluminosilicate, tungsten oksida dan nikel (Ni). Nikel mempunyai sifat tidak mudah terdegradasi dan berada dalam Lampiran III PP No.85 Tahun 1999 yang dikategorikan sebagai zat pencemar yang bersifat kronis. 

  Komposisi unicracking catalyst DHC-8

Komposisi % berat Satuan
Aluminosilicate 85 – 95 N.A
Tungsten oxide 5 – 15 mg/m3
Nickel oxide < 2 mg/m3
Sumber : UOP Health, Safety and Environment Department, 2004
Catatan :  N.A : Not Applicable  

Profil unicracking catalyst DHC-8

Bentuk : Bulat Warna : Tan
Bau : Tidak berbau pH : N.A
Boiling Point : N.A Melting point/range : N.A
Flash Point : N.A Autoignition temperature : N.A
Berat volume : 45±2 lbs/ft3 (0,72±0,03 g/cc) Explosion limits : N.A
Vapor pressure : N.A Relative density/Specific Gravity : N.A
Vapor density : N.A Viscosity : N.A
Water solubility : insoluble Solubility : N.D
Sumber : UOP Health, Safety and Environment Department, 2004    
Catatan : N.A : Not Applicable      
               N.D : Not Determined      

unicracking catalyst DHC-8

Gambar unicracking catalyst DHC-8

Catalyst Unicracking DHC-8 akan melalui proses pengolahan crude sehingga akan terkena zat pencemar. Pengolahan tersebut adalah pengolahan HVGO (Heavy Vacum Gas Oil) yang akan diubah menjadi produk dengan fraksi yang lebih ringan. Setelah suatu periode pengolahan tertentu, catalyst akan mengalami deaktivasi sehingga harus diregenerasi untuk mengaktivasi catalyst kembali. Suatu ketika, catalyst tidak akan bisa diregenerasi kembali, sehingga tidak bisa digunakan lagi dalam proses pengolahan. Inilah yang disebut sebagai spent catalyst.

QShot_0034 

Gambar siklus katalis dalam proses pengolahan HVGO (Heavy Vacum Gas Oil)

IMG_0319ok

Gambar unicracking catalyst DHC-8 fresh

IMG_0316ok

gambar unicracking catalyst DHC-8 setelah diregenerasi

spn

Gambar spent catalyst DHC-8 yang sudah tidak bisa dipergunakan lagi dalam proses pengolahan HVGO

Spent catalyst merupakan katalis sisa yang harus dibuang, namun spent catalyst termasuk bahan yang diklasifikasikan sebagai limbah B3 yang tertera dalam Kode Limbah D221 Lampiran I PP RI No.18 Tahun 1999. Hal ini menyebabkan spent catalyst membutuhkan pengelolaan khusus yang sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. Dalam tabel berikut akan ditunjukkan bahwa spent catalyst dari proses pengolahan minyak bumi merupakan jenis limbah B3 dari sumber spesifik (limbah yang bersentuhan langsung dengan proses).

QShot_0036

Berdasarkan pada Lampiran III PP No.85 Tahun 1999 dan Kode Limbah D221 Lampiran I PP RI No.18 Tahun 1999, maka limbah ini termasuk dalam kategori limbah B3. Namun, perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui tingkat bahaya yang dapat ditimbulkan oleh limbah tersebut. Pengujian yang dilakukan dibagi atas uji karakteristik B3 dan uji TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedure) untuk parameter anorganik (logam berat). Hasil pengujian yang dilakukan pada spent catalyst DHC-8 beserta baku mutunya dapat dilihat pada tabel-tabel berikut

QShot_0037

berdasarkan hasil uji tersebut membuktikan bahwa kandungan bahan berbahaya dalam spent catalyst DHC-8 masih di bawah baku mutu, sehingga dapat dikatakan bahwa spent catalyst DHC-8 masih tergolong aman.

Pembahasan Masalah

Pada dasarnya pelaksanaan pengelolaan spent catalyst DHC-8, termasuk di dalamnya pengolahan spent catalyst DHC-8 menjadi batako mengacu pada:

  1. Peraturan Pemerintah PP No.18/1999 Jo PP No.85/1999 dan PP No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
  2. Kepdal No. Kep-03/BAPEDAL/09/1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
  3. SK No. Kpts-26/C00000/2008-S0 Pedoman Pengelolaan dan Pelepasan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) pada Kegiatan Operasi Perusahaan.

Dalam melakukan metode pembuatan batako melalui solidifikasi ini perlu diperhatikan 2 aspek yaitu:

  1. Aspek kimiawi (efektivitas batako dalam menahan zat berbahaya) yang dibuktikan melalui uji karakteristik B3 dan TCLP
  2. Aspek kelayakan kualitas batako yang dibuktikan melalui uji kuat tekan (compressive strength)

QShot_0038

QShot_0000

Selanjutnya ditentukan rasio pembuatan batako adalah PC: pasir : spent catalyst DHC-8 = 3:3:7. Metode pembuatan batako yang dilakukan sebagai berikut:

  1. Mempersiapkan bahan dengan rasio yang sudah ditentukan
  2. Mencampur bahan dengan air tawar secukupnya lalu diaduk hingga membentuk adonan batako yang dapat dicetak.
  3. Melumasi cetakan batako dengan oli.
  4. Mencetak adonan batako dengan dibantu alat penggetar (vibrator) untuk meningkatkan kemampatan adonan dalam cetakan.
  5. Melepas cetakan dari adonan batako.
  6. Mengeringkan batako yang telah dicetak selama 24 jam di tempat yang sejuk.
  7. Melakukan curing atau perawatan batako dengan cara merendam batako selama 2 jam setelah umur 24 jam dan diangkat kemudian dianginkan di tempat teduh hingga mencapai usia 28 hari.

Selanjutnya dilakukan uji karakteristik B3 dan uji TCLP pada beton tersebut. Uji TCLP dilakukan dengan mengacu pada Keputusan KABAPEDAL Nomor KEP-03/BAPEDAL/09/1995 Tabel 1 di mana pada Tabel 1 terdapat 53 parameter yang diuji. Namun pada pengujian kali ini dititik beratkan pada 4 buah parameter yang umum digunakan untuk menguji spent catalyst antara lain Cr, Cu, Pb, dan Zn.

QShot_0003

Berdasarkan pada hasil kedua uji tersebut, dapat dilihat bahwa kandungan bahan berbahaya masih di bawah persyaratan maksimum yang dipersyaratkan. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa solidifikasi spent catalyst DHC-8 menjadi batako tidak berbahaya.

Setelah dilakukan uji TCLP selanjutnya dilakukan uji kuat tekan (compressive strength). Uji tekan dilakukan pada 3 buah sampel batako yang mencapai umur 28 hari.

QShot_0004

Dari hasil uji tekan di atas, untuk uji tekan tiap-tiap batako sudah memenuhi untuk mutu batako B70 seperti Tabel 3.1, tetapi hasil uji kuat tekan pada semua sampel sangat fluktuatif. Hal ini bisa disebabkan oleh ketidaksempurnaan saat pengadukan bahan, sehingga terdapat semen yang masih menggumpal dalam batako.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.