Tempat terdamai

Aku mencarinya ke mana-mana. Di kolong langit yang bernama mal, rumah makan, tempat bernyanyi hingga kantor. Aku tak jua mendapatkannya. Aku mencoba mencarinya di tempat yang bernama rumah, tapi itu bukan rumahku, itu rumah orang lain yang kutinggali, dan di sana nyaris tak ada kedamaian di hatiku selain kamar kecilku yang kusam.

Aku mencoba mencari lagi tempat yang damai itu, karena hatiku semakin berdarah-darah tiap hari. Kutanya pada semua orang tentang taman2 kota dan hot spot area, namun ternyata bukan itu tempat terdamai bagiku. Kucoba mencari di toko buku dan jalanan, masih juga salah.

Aku mencoba mencarinya saat pagi hari, di tepi pantai sambil melihat kapal2 minyak kelip-kelip yang sangat indah. Hampir saja aku tertipu bahwa itu tempat terdamai, nyatanya tidak memberiku kedamaian hakiki.

Hingga, suatu ketika aku menemukan hatiku tengah sekarat karena sedih. Aku tak sengaja mencoba melarikannya di sebuah mushola. Saat itu kukira hatiku sudah tidak bisa tertolong lagi. Aku salah, hatiku menjadi hidup kembali. Aku menyukai keharuman mushola ini dan kedamaian hakiki di dalamnya. Aku tak kuasa menahan deraian air mata yang tak kunjung berhenti. Air mata damai dan bahagia, karena aku berada dalam tempat terdamai sekarang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: