KONSEP RENCANA PENATAAN LANDSCAPE BERBASIS PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP MENUJU KOTA ACEH DAN NIAS YANG SEHAT DAN AMAN.

KONSEP RENCANA PENATAAN LANDSCAPE BERBASIS PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP MENUJU KOTA ACEH DAN NIAS YANG SEHAT DAN AMAN.

2007

Bencana alam tsunami di Aceh dan gempa bumi di Nias beberapa waktu lalu masih belum lekang dari ingatan. Dua bencana besar tersebut meluluhlantakkan Aceh dan Nias dalam sekejap. Bencana tersebut menyisakan kerugian jiwa, psikologi, hingga kerugian material.

s_30d39706

Gambar 1. Korban Bencana Gempa Bumi Nias di Tenda Bantuan

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/stokfoto/2005/03/28/stf,20050328-56,id.html

tsunami_aceh_bodies_cp_6906800

Gambar 2. Korban Jiwa Bencana Alam Tsunami di Aceh

Sumber: http://www.cbc.ca/gfx/photos/tsunami_aceh_bodies_cp_6906800.jpg

Kondisi pasca bencana ibarat kehidupan baru bagi para korban. Kampung halaman yang porak poranda dan sempat mati suri kini perlahan-lahan mulai didatangi oleh para korban. Menurut Siswanto (Rabu, 16 Februari 2005), mayoritas para korban ingin kembali ke kampung halamannya. Sebagian besar dari mereka tidak lagi takut atau trauma dengan bencana yang telah terjadi.

 Wilayah Aceh dan Nias pasca bencana sungguh memprihatinkan. Menurut Tim Inovasi (2006), dua pertiga dari total bangunan di Banda Aceh dan sebanyak 52,77 persen dari total luas ibu kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu hancur total akibat gempa dan tsunami. Sedangkan menurut http://e-aceh-nias.org/upload/RBRR-07032007085259 .pdf, bencana di Nias menyebabkan 70.000 rumah rusak dan 90% kehidupan penduduk utamanya pertanian dan perikanan telah hancur. Kerusakan yang sangat signifikan tersebut harus segera ditangani untuk membantu para korban yang sebagian besar harus dan ingin kembali ke kampung halamannya.

banda_aceh_sebelum_tsunami_ Gambar 3. (a) Kondisi Kota Banda Aceh Sebelum Tsunami

banda_aceh_sesudah_tsunami_

(b) Kondisi Kota Banda Aceh Setelah Tsunami

Sumber: http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.pirba.ristek.go.

id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

Kerusakan yang cukup parah di Aceh dan Nias mengharuskan pemerintah harus segera melakukan penataan dan pembangunan kota skala besar. Bahkan, menurut Tim Inovasi (2006), menata Kota Aceh ibarat menata kota baru dari nol. Namun, menata kembali kota yang telah hancur lebur tidaklah semudah membalik telapak tangan. Butuh pemikiran yang mendalam serta pertimbangan dan masukan dari berbagai pihak untuk melakukan perencanaan tata ruang kota. Ada banyak faktor kompleks yang mempengaruhi perencanaan tersebut. Misalnya saja menurut Siswanto (Rabu, 16 Februari 2005) terdapat beberapa dilema dalam rekonstruksi. Dilema yang pertama adalah perihal rencana untuk mengurangi kepadatan penduduk kota pantai. Fakta di lapangan menunjukkan, mayoritas dari warga di pesisir Banda Aceh telah dipanggil Tuhan. Dengan demikian, kita tidak perlu lagi terlalu mengkhawatirkan kawasan-kawasan eks tsunami tersebut akan segera menjadi padat dalam waktu dekat. Dilema yang kedua yaitu perihal relokasi penduduk ke kota baru. Mungkin perlu kita renungkan kembali bahwa relokasi permukiman bukanlah pekerjaan yang mudah karena sering kali relokasi justru memiskinkan penduduk yang dipindahkan; dan pembangunan kota baru pada kenyataannya sangat sulit menarik warga untuk tinggal di sana. Hal ini disebabkan kota akan tumbuh kalau kesempatan kerja tersedia, kemudian pekerjaan membuahkan penghasilan, dan penghasilan menciptakan akumulasi dan sirkulasi kapital-bukan sebaliknya kota baru dibangun, kemudian pekerjaan muncul dan akumulasi kapital terjadi. Bila ternyata relokasi dan pembangunan kota baru terpaksa harus dilakukan, maka sebaiknya harus diusahakan untuk merelokasi penduduk ke kawasan permukiman baru yang sedekat-dekatnya dengan tempat tinggal mereka semula.

Setelah kondisi pasca bencana, berbagai alternatif untuk tata ruang kota ditawarkan. Tata ruang kota ini umumnya mempunyai prinsip yang berdasar pada model pengaturan landscape tertentu. Salah satunya adalah perencanaan penataan landscape untuk wilayah perumahan yang dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5.

image007.jpgpenataan lanskap perumanahan padat

Gambar 4. Penataan Landscape Perumahan Padat

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

 image008.jpgpenataan perumahan padat

Gambar 5. Penataan Landscape Perumahan Padat

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

Lokasi wilayah Aceh dan Nias berdekatan, sehingga keduanya mempunyai potensi untuk saling mempengaruhi. Bukti dari hal ini adalah bencana alam besar yang terjadi secara beruntun di dua wilayah tersebut dalam waktu bersamaan beberapa waktu lalu. Sehingga prinsip dasar penataan ruang kedua wilayah tersebut tidaklah berbeda jauh. Perbedaan yang mungkin terjadi dalam perencanaan tata ruang masing-masing wilayah bisa diakibatkan karena penyesuaian dengan kondisi wilayah dan penduduk.

petaAceh

Gambar 6. Peta Aceh

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.dpr.go.id/acehnias/i/petaAceh.gif&imgrefurl=http://www.dpr.go.id/acehnias/ShowStatistic.aspx&h=451&w=376&sz=24&hl=id&start=2&um=1&tbnid=wRgmVTzITIhtM:&tbnh=127&tbnw=106&prev=/images%3Fq%3Dpeta%2Bnias%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN

NIAS

Gambar 7. Peta Nias

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.toba-dx-group.net/nias.gif&imgrefurl= http://www.toba-dxgroup.net/&h=289&w=376&sz=39&hl=id&start= 5&um=1&tbnid=VDcBVZlawu QN3M:&tbnh=94&tbnw=122&prev=/images%3Fq%3Dpeta%2Bnias%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN

Berpijak pada pernyataan-pernyaataan sebelumnya, maka tulisan ini menawarkan konsep penataan landscape kota yang sangat bermanfaat sebagai rujukan perencanaan tata ruang kota untuk Aceh dan Nias yang didasarkan pada tujuan untuk menciptakan sebuah kota yang sehat dan aman yang berbasis pada pelestarian lingkungan hidup. Pelestarian lingkungan hidup perlu dilakukan dimana setelah terjadinya bencana, kondisi lingkungan hidup di Aceh dan Nias sangat memprihatinkan. Padahal lingkungan hidup merupakan aspek yang sangat berperan besar dalam menyeimbangkan kehidupan kota dan mendukung berlangsungnya kehidupan. Lingkungan hidup yang meliputi komponen tanah, air dan udara harus dilestarikan demi memaksimalkan manfaatnya untuk manusia. Pada tulisan ini akan dijabarkan konsep rencana tata landscape kota dengan tetap memperhatikan lingkungan hidup.

Berpijak pada pernyataan Siswanto (Rabu, 16 Februari 2005) bahwa rekonstruksi tata landscape tidak harus sama sekali baru, maka konsep tata landscape yang ditawarkan di sini bisa berfungsi sebagai rujukan atau informasi mengenai kondisi tata ruang ideal menuju kota Aceh dan Nias yang sehat dan aman. Namun, tidak menutup kemungkinan diterapkannya konsep tata landscape kota ini untuk wilayah yang lain.

Pada konsep perencanaan tata ruang ini, dilakukan pembagian terlebih dahulu mengenai spesifikasi landscape yang mempunyai fungsi tertentu. Nantinya tiap jenis landscape ini akan ditata dengan tetap memperhatikan fungsi serta kelestarian lingkungan hidup. Pembagian wilayah berdasarkan fungsinya ini meliputi wilayah-wilayah yang mempunyai pengaruh penting dalam mendukung kehidupan perkotaan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:

  1. Wilayah pantai dan permukiman pantai
  2. Wilayah permukiman di tengah kota

Uraian mengenai konsep rencana penataan landscape pada masing-masing wilayah akan dijabarkan berikut ini:

  1. Wilayah Pantai dan Permukiman Pantai

Wilayah pantai merupakan wilayah yang paling disoroti utamanya di Aceh pada pasca bencana tsunami. Hal ini dikarenakan wilayah pantai merupakan wilayah pertama kali yang akan terhempas tsunami, sehingga perlu diterapkan suatu pertahanan untuk mengurangi atau bahkan mengambat laju tsunami. Pemberdayaan wilayah pantai melalui pendekatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk mengantisipasi bencana tsunami telah banyak dibahas. Penerapan RTH dalam antisipasi bencana tsunami dipandang sebagai salah satu alternatif paling efektif saat ini. Selain ekonomis, penerapan RTH ternyata memberikan banyak manfaat. Manfaat-manfaat tersebut misalnya manfaat proteksi, estetika, hingga kesehatan.

 Meskipun bencana alam di Nias beberapa waktu lalu bukan bencana tsunami, namun penerapan RTH di wilayah pantai masih tetap harus dilakukan. Hal ini karena wilayah Nias mempunyai persamaan dengan wilayah Aceh, yaitu daerah rawan tsunami. Gempa bumi seperti yang terjadi di Nias beberapa waktu lalu sebenarnya juga mempunyai resiko terjadinya tsunami. Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada daerah rawan tsunami yang dapat dilihat pada Gambar 8.

daerah_rwn_tsunami

Gambar 8. Daerah Rawan Tsunami

Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

 Penerapan RTH pada wilayah pantai dilakukan dengan menanam tumbuhan yang berakar kuat dan cocok ditanam di daerah pantai, seperti tumbuhan bakau (mangrove).

HTN-BAKA

Gambar 9. Tumbuhan Bakau (Mangrove)

Sumber: http://www.lablink.or.id/Eko/Wetland/lhbs-mangrove.htm

Berkenaan dengan penerapan RTH dengan menggunakan tanaman bakau, maka perlu adanya penyediaan ruang (space) bagi RTH. Hal ini dimaksudkan supaya luas area hutan bakau yang cukup efektif mereduksi laju tsunami dapat diaplikasikan.

 Penanaman bakau dengan tujuan di bidang keamanan. Penanaman bakau untuk tujuan antisipasi bencana dititikberatkan pada garis pantai yang berwarna merah pada Gambar 8. Jika memungkinkan, harus dibuat suatu sabuk hijau bakau di sepanjang garis pantai merah tersebut sepanjang daerah Aceh dan juga pada sebagian besar garis pantai Nias, kecuali untuk daerah-daerah tertentu yang tidak memungkinkan untuk ditutup bakau pada garis pantainya. Namun, untuk daerah yang demikian, perlu adanya sabuk hijau, tapi terletak di antara pantai dan permukiman manusia. Yang pasti, antara permukiman manusia dengan laut diusahakan harus disekat dengan bakau atau tumbuhan lainnya. Penyediaan lahan basah juga di daerah sebelum pantai juga perlu dilibatkan. Hal ini dikarenakan, lahan basah berfungsi menampung runoff air hujan, sehingga material pencemar yang terbawa air hujan tidak langsung masuk ke laut tetapi diolah secara alami terlebih dahulu dalam lahan basah.

 Penanaman hutan bakau di wilayah pantai tidak hanya ditujukan untuk antisipasi tsunami dan mencegah abrasi, akan lebih disukai jika mempunyai peran ganda, yaitu sebagai penggerak roda ekonomi. Misalnya dengan menerapkan pohon bakau sebagai kawasan pariwisata. Menurut Kasim (23 Februari 2006) hutan bakau dapat berpotensi menjadi daerah eko-wisata yang mempunyai banyak nilai positif dan manfaatnya.

 Berikut ini akan ditampilkan beberapa manfaat apabila tersedia hutan bakau dan kerugian apabila tidak disediakan hutan bakau, yang dikutip dari Wetlands International (30 Juni 2001) sebagai berikut:

 Manfaatnya:

(1)   Pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai.

(2)   Menyediakan berbagai hasil kehutanan seperti kayu bakar, alkohol, gula, bahan penyamak kulit, bahan atap, bahan perahu, dan lain-lain.

(3)   Mempunyai potensi wisata.

(4)   Sebagai tempat hidup dan berkembang biak ikan, udang, burung, monyet, buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemik.

 Kerugian jika hutan bakau hilang:

(1)   Terjadi abrasi pantai

(2)   Mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan

(3)   Mengakibatkan banjir

(4)   Perikanan laut menurun

(5)   Sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang

 Penerapan RTH melalui penyediaan hutan bakau di Aceh dan Nias difokuskan untuk garis pantai bagian barat dari 2 wilayah ini. Penanaman hutan bakau ini memang tidak dilakukan dengan menutup sepenuhnya garis pantai bagian barat, namun dilakukan dengan menitikberatkan penanaman bakau yang cukup besar pada garis pantai bagian barat. Wilayah-wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam meliputi garis pantai di daerah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Simeulue. Sedangkan untuk Nias, perlu dilakukan penyediaan hutan bakau di sebagian besar garis pantainya.

 Daerah permukiman pantai perlu mendapat perhatian juga. Meskipun menurut Siswanto (Rabu, 16 Februari 2005) penduduk di kawasan pantai Aceh mayoritas telah meninggal, namun dalam perencanaan harus tetap dipertimbangkan demi perkembangan di masa depan. Selain itu, keadaan ekonomi di Aceh menjadi turun secara signifikan pasca bencana, sehingga kemungkinan besar penduduk akan beralih ke mata pencaharian yang mempunyai korelasi langsung dengan alam seperti petani dan nelayan. Sehingga, perencanaan permukiman untuk kawasan pantai menitikberatkan penyediaan permukiman untuk para nelayan. Keberadaan bangunan penyelamat dan jalur evakuasi harus tersedia untuk mengantsipasi kemungkinan buruk jika bencana terjadi. Tembok pelindung perlu juga dibangun untuk membentengi kawasan permukiman dari serangan tsunami. Selain itu perlu disediakan sarana sanitasi berupa penampungan limbah cair secara komunal. Misalnya dengan menyediakan tangki septik yang dilengkapi dengan sumur resapan, dengan syarat kedalaman air tanahnya cukup dalam. Selain itu ada pertimbangan bahwa jarak sumur resapan atau tangki septik minimal harus 10 m dari sumber air. Sehingga untuk penyediaan tangki septik dan sumur resapan bisa dilakukan secara komunal. Penyediaan RTH di sekitar sumur resapan atau tangki septik berguna juga untuk memperkecil resiko pencemaran air tanah, karena akar tumbuhan akan menarik zat-zat pencemar dalam sumur resapan atau tangki septik kepada akar utamanya untuk tanaman yang berakar panjang.

 Pada kawasan lain di dekat pantai,  namun cukup jauh dari permukiman penduduk termasuk permukiman nelayan memungkinkan untuk dibangun pabrik-pabrik atau area industri. Hal ini mirip dengan pembangunan di Kobe (Jepang) (Tim Inovasi, 2006). Hampir semua industri di sana berada di tepi laut yang jauh dari permukiman. Air limbah yang dihasilkan diolah dahulu sebelum dibuang ke laut. Sehingga pengadaan instalasi pengolahan air limbah harus direncanakan. Pengalihan daerah industri di daerah pantai dimaksudkan untuk mengurangi polusi udara di daerah perkotaan, karena gas-gas yang dihasilkan industri akan mengarah ke laut. Namun, bukan berarti gas-gas tersebut tidak melalui pengolahan, harus ada rencana pengolahan limbah udara. Kembali lagi, di antara pabrik dan laut harus disekat dengan hutan bakau atau RTH. Sehingga gas-gas yang dihasilkan akan melalui zona hijau sebelum ke laut. Sedangkan kawasan antara area industri dengan kawasan permukiman harus disediakan jalur hijau juga supaya gas-gas pencemar yang telah mengalami pengolahan akan melewati jalur hijau sebelum mencapai permukiman. Untuk mempermudah akses jalan distribusi dari pabrik dan kota harus dibuat akses jalan yang baik, hal ini penting juga untuk mendukung pengembangan industri.

Secara garis besar, perencanaan wilayah pantai yang ideal adalah sesuai dengan yang dijelaskan di atas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 10.

2. Wilayah Permukiman di Tengah Kota

Perencanaan landscape permukiman terutama untuk permukiman di tengah kota memerlukan perhatian khusus, terutama karena kebutuhan tempat tinggal pasca bencana saat ini sangat mendesak. Untuk tata landscape daerah ini perlu diperhatikan beberapa faktor yang merupakan gambaran ideal meliputi:

(1)   Ketersediaan RTH di perkotaan dengan tetap memperhatikan ketersediaan lahan yang sesuai dengan kebutuhan perumahan.

(2)   Penyediaan RTH di sepanjang jalur transportasi untuk mereduksi zat-zat pencemar yang dihasilkan alat-alat transportasi.

(3)   Penyediaan fasilitas sanitasi berupa penyediaan tangki septik komunal untuk perumahan padat jika tidak memungkinkan pengadaan jarak 10 m dari sumber air bersih/minum untuk tiap rumah, serta penyediaan sarana sanitasi berupa septic tank pribadi untuk tiap rumah jika memungkinkan diterapkan aturan jarak 10 m dari air bersih/minum untuk tiap rumah.

(4)   Penyediaan taman-taman kota di tengah dan di tepi kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota. Fungsi ini bisa dikembangkan sebagai daerah pariwisata di perkotaan.

(5)   Daerah bantaran sungai harus dikosongkan dari permukiman dan digantikan dengan penyediaan RTH. Pada titik-titik tertentu perlu disediakan instalasi pengoahan air minum terutama untuk daerah hulu untuk menjaga kualitas bahan baku air minum.

(6)   Daerah komersial seperti pasar harus tetap memperhatikan penyediaan RTH.

(7)   Penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di tepi kota. Hal ini bertujuan supaya tidak mengganggu pemandangan kota dan menjaga tingkat kesehatan masyarakat. Pemilihan lokasi TPA harus dipilih beradasarkan kemudahan akses jalan bagi kendaraan pengangkut sampah. Perlu adanya perencanaan TPA dengan sistem sanitary landfill, yang pada prinsipnya bertujuan untuk memperpanjang umur TPA. Pada daerah TPA perlu dipertimbangkan lapangan kerja melalui pembuatan kompos dari sampah organik untuk mengurangi jumlah timbulan sampah. Bisnis biogas sebagai energi alternatif dari sampah merupakan hal yang sangat menarik dipertimbangkan.

(8)   Daerah dataran tinggi memerlukan penyediaan RTH yang cukup besar untuk mencegah erosi, tanah longsor dan banjir.

(9)   Daerah-daerah di tepi kota terutama yang searah dengan pantai rawan tsunami perlu dibangun jalur hijau dengan vegetasi berkayu.

 Berdasarkan uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa tata landscape di atas merupakan tata landscape ideal bagi Aceh dan Nias yang diharapkan bisa menjadi acuan penataan kota Aceh dan Nias pasca bencana yang memerlukan perencanaan kota skala besar. Penataan landscape tersebut mengacu pada tujuan untuk membentuk kota yang sehat dan aman sebagai tujuan utama pembentukan suatu kota.

MG

Rencana Tata Ruang

 

 

Daftar Pustaka:

Anonim. Daerah Rawan Tsunami. Sumber:http://images.google.co.id/imgres? Imgurl =http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

 Anonim, http://www.cbc.ca/gfx/photos/tsunami_aceh_bodies_cp_6906800.jpg

 Anonim. Kondisi Banda Aceh Sebelum dan Sesudah Tsunami ,http://images.goog le.co.id/imgres? imgurl=http://www.pirba.ristek.go. id/isi/aceh/gambar/daerah _rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

Anonim. Penataan Landscape Perumahan. http://images.google.co.id/imgres? Imgurl =http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/gambar/daerah_rwn_tsunami.jpg&imgrefurl=http://www.pirba.ristek.go.id/isi/aceh/bawah.htm&h=570&w=900&sz=71&hl=id&start=5&um=1&tbnid=TMxcetU8QeqHYM:&tbnh=92&tbnw=146&prev=/images%3Fq%3Dtsunami%2Baceh%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DX

Anonim. Peta Aceh. Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www. dpr.go.id/acehnias/i/petaAceh.gif&imgrefurl=http://www.dpr.go.id/acehnias/ShowStatistic.aspx&h=451&w=376&sz=24&hl=id&start=2&um=1&tbnid=wRgmVTzITIhtM:&tbnh=127&tbnw=106&prev=/images%3Fq%3Dpeta%2Bnias%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN

Anonim. Peta Nias. Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www. toba-dx-group.net/nias.gif&imgrefurl=http://www.tobadxgroup.net/&h=289& w=376&sz=39&hl=id&start=5&um=1&tbnid=VDcBVZlawuQN3M:&tbnh=94&tb nw=122&prev=/images%3Fq%3Dpeta%2Bnias%26svnum%3D10%26 um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN

Anonim. The Disaster In Nias, http://e-aceh-nias.org/upload/RBRR-07032007085259 .pdf.

Fikri, Ahmad, Rabu 13 April 2005. Gangguan Gunung Meletus Efek Gempa Nias. TempoInteraktif,Bandung,http://www.tempointeraktif.com/hg/stokfoto/2005/03/28/ stf, 20050328-56,id.html

 Kasim, ma’ruf, Rabu 23 Februari 2006. Kawasan Mangrove dan Kawasan eco-tourism. http://maruf.wordpress.com/tag/kawasan-mangrove-dan-konsep-ecot ourism/

Siswanto, Andy, Rabu 16 Februari 2005. Merekonstruksi Tata Ruang Aceh. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/16/opini/1562572.html

 Tim Inovasi, 2006. Menata Kembali Banda Aceh Pasca Tsunami. http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=193

 Wetlands Indonesia, 30 Juni 2001. Hutan Mangrove. http://www.lablink.or.id/Eko /Wetland/lhbs-mangrove.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: